Menelusuri Bahaya Lidah

October 21, 2008

http://batampos. co.id/opini/ opini/menelusuri _bahaya_lidah_ /

Menelusuri Bahaya Lidah
Jumat, 17 Oktober 2008
Oleh: Des Harriyanto S Sos
Penulis berdomisili di Tanjungbalai Karimun
Tertulislah kisah di surat kabar tentang seseorang yang oleh keluarganya diakui tidak punya musuh tahu-tahu mati secara mengenaskan. Bagaikan petir di siang hari, tak percaya, tapi nyata. Tak disangka, tak diduga semula sang korban yang terbilang rupawan, cemerlang kedudukan kini terbujur kaku di pembaringan rumah duka.

Kisah pembunuhan di dunia ini bukanlah barang baru. Kisah bermula sejak zaman Nabi Adam, ketika kedua anaknya Habil dan Qabil saling berbunuhan. Dan kini pembunuhan telah terjadi di mana-mana dengan berbagai berita, cerita dan derita tentang pelaku dan korban. Ada anak bunuh bapak dan sebaliknya. Ada mertua bunuh menantu dan sebaliknya. Ada paman bunuh ponakan dan sebaliknya. Dan lain-lain bentuk pelaku dan korban.

Pembunuhan itu berawal dari dendam yakni sakit hati yang terhutang. Dendam itulah yang mendorong seseorang untuk membunuh. Dendam terjadi karena ucapan yang membuat luka di hati. Mengapa terjadi seperti itu? Manusia paling mudah disakiti dengan kata-kata yang menghina, baik dalam bentuk sindiran maupun dalam bentuk to the point berupa ba**, an****, mon***, pan*** dan lain-lain sejenisnya.

Serangkap pantun pusaka turun-temurun berbunyi, “karena pulut, santan binasa; karena mulut, badan binasa” jelas sekali perang kata-kata alias bertengkar berubah menjadi perang senjata. Inilah akibatnya kita yang suka berdebat bicara pakai nafsu tidak pakai ilmu. Tanda-tanda orang yang berbicara pakai nafsu adalah mereka selalu ingin menang dalam bicara dan ingin didengarkan.

Dan tanda-tanda orang yang berbicara pakai ilmu adalah mereka yang mencari dan menyampaikan kebenaran dalam bicara, tentu sebelumnya mereka harus tahu apa yang mereka bicarakan dan mereka dapat pula mengajukan bukti dan saksi yang benar-benar ada dalam bicara. Oleh karena itu, orang seperti ini tidak pandai mengada-adakan cerita.
Setiap manusia yang terlahir tidak bisa memerlukan waktu dua tahun untuk belajar berbicara. Waktu kecil lidah kita cadel (Melayu: pelat), sebagai contoh bilang kuku, susu, marah menjadi tutu, cucu, malah. Dan selama lima puluh tahun kita berusaha sedaya upaya menjaga lidah kita.

Bagi para ilmuwan, sastrawan, pucuk pimpinan instansi pemerintahan, pemimpin masyarakat, lebih-lebih lagi para alim ulama menjaga lidah adalah “tugas suci” untuk menyelamatkan ketenteraman hidup berdampingan.

Sungguh betapa sia-sianya orang merasa dirinya berpengaruh dalam tatanan kehidupan masyarakat justru memberikan petunjuk yang keliru. Sudah mendarah daging pula dalam masyarakat kita apa yang disampaikan oleh tokoh spiritual dianggap sebagai “petunjuk suci” sehingga seseorang atau sekelompok orang bisa mati dibunuh dibuatnya.

Teringatlah penulis dengan sebait lagu, “memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata, tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati” adalah kenyataan dalam kehidupan manusia yakni di dalam kesungguh-sungguhan belum tentu berbuah kesungguh-sungguhan . Dalam bahasa yang sederhana tak selamanya gayung bersambut.

Bagi orang yang gede rasa alias terlalu percaya diri, mereka yakin bahwa orang lain akan berpikir, berbuat dan bertindak sebagaimana mereka berpikir, berbuat dan bertindak. Apabila kehendaknya dan pendapatnya tidak diterima alias ditolak maka timbullah keberingasannya untuk dendam.

Sebelum terlanjur kita menjadi korban keberingasan orang lain, maka marilah kita jaga lidah kita, waspada dan selalu ingat tiga perkara. Pertama, di saat kita berbicara sungguh-sunggguh mungkin kita akan kecewa. Menyampaikan sesuatu akan terasa bermakna di saat ada permintaan. Kedua, di saat kita berbicara dengan separoh hati mungkin kita akan bahaya karena orang yang mendengar sudah penasaran alias panas perasaan untuk mencari dan menunggu-nunggu kesungguhan pembicara.

Ketiga, di saat kita bicara main-main maka kita akan hampa alias kosong tak punya nilai apa-apa bagi yang mendengar. Sangat-sangat berbahaya di saat-saat kita bermain-main dengan ucapan lisan orang yang mendengarkan dan menanggapi dengan sungguh-sungguh.

Memang benar kita harus menyampaikan kebenaran walaupun pahit. Alangkah betapa indahnya suatu kebenaran jika disampaikan dengan cara yang cukup bijaksana. Nabi berpesan hendaklah engkau berbicara seseuai akal orang yang menerima.

Untuk menuju ke sana terlebih dahulu pembicara harus mengenal siapa lawan bicara. Sungguh keliru para kaum intelektual zaman sekarang ketika naik mimbar masjid di kampung-kampung mereka menggunakan bahasa tinggi yang sangat-sangat tidak dipahami oleh orang awam.

Dalam lingkungan orang awam, ketentraman seseorang sangat ditentukan oleh lidahnya. Lidah yang tajam menciptakan musuh. Keberanian selalu ditunjukkan pada yang lemah.

Melawan yang lemah maupun melawan yang kuat hasilnya sama, kita tidak akan bisa tidur nyenyak dan selalu gelisah minta ditemani dan dikawal ke mana pergi. Kata pepatah, dalam air tenang jangan disangka tidak ada buaya. Buaya adalah bahaya, pelampiasan dendam bagaikan bom waktu yang akan meledak kapan-kapan saja Kata orang tua kita kalau tak dapat jalan kasar akan dicarikan jalan halus untuk melenyapkan nyawa seseorang.

Ke dukun tempat mengadu duka nestapa maka orang yang menyakiti kita akan sakit tanpa kunjung sembuh, berobat dari dokter ke dokter, akhirnya penyakit sembuh dengan kematian. Fenomena dukun santet bukan hal baru di negeri kita.
Tak ada seorang pun yang tahu di mana dia akan meninggal dunia dan dan dia tidak akan tahu di mana pula akan dikuburkan. Selama hidup di dunia tentunya kita kita mencari keselamatan dalam pergaulan. Oleh kerana itu, terlebih dahulu ciptakanlah kenyamanan bagi diri sendiri anda agar tidak menjadi ancaman bagi siapa pun dan di mana pun anda berada. Cara yang paling mudah adalah bercakap harus bertapis. Senada dalam bahasa Betawi ngomong pake bandro


Jangan Jadi Gelas

September 23, 2008

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya yang  belakangan ini wajahnya
selalu tampak murung.  "Kenapa kau selalu murung, Nak? Bukankah banyak hal
yang indah di dunia ini?  Kemana perginya wajah bersyukurmu?"
 
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah.  Sulit bagi saya untuk
tersenyum.  Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.", jawab sang
murid muda. 
 
Sang Guru terkekeh.  "Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari.  Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."  Si murid pun
beranjak pelan tanpa semangat.  Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu
kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. 
 
"Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke segelas air itu.", kata
Sang Guru.  "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.", lanjut
gurunya.
 
Si murid pun melakukannya.  Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. 
"Bagaimana rasanya?", tanya Sang Guru. 
 
"Asin dan perutku jadi mual.", jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis. 
 
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. 
"Sekarang kau ikut aku.".  Sang Guru membawa muridnya ke danau di
dekat tempat tinggal  mereka.  
 
"Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau."  Si murid
menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara.  Rasa asin di
mulutnya belum hilang.  Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak
dilakukannya.  Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. 
 
"Sekarang, coba kau minum air danau itu.",  kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. 
 
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau dan membawanya ke
mulutnya lalu meneguknya.  Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di
tenggorokannya Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
 
"Segar, segar sekali!", kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. 
 
"Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana.  Dan
airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.  Dan sudah pasti air danau ini
juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.  Terasakah rasa garam
yang kau tebarkan tadi?"
 
"Tidak sama sekali.", kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi.  Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan
muridnya itu meminum air danau sampai puas. 
 
"Nak.",  kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.  "Segala
masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.  Tidak kurang, tidak lebih. 
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami
sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap
manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.  Tidak ada satu pun manusia,
walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah." 
 
Si murid terdiam, mendengarkan.  "Tapi, Nak, rasa asin dari penderitaan
yang kau alami itu sangat tergantung dari kebesaran hati yang menampungnya. 
Jadi, Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.  Jadikan hati
dalam dadamu itu menjadi sebesar danau."

Waktu Tuhan Selalu Indah

September 23, 2008

Kadang kita bertanya dlm hati & menyalahkan Tuhan, “apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?” atau “kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya ?”

Here is a wonderful explanation. ..

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota .

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, “Tentu saja, I love your cake.”

“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya  menawarkan. “Yaiks,” ujar anaknya.

“Bagaimana dgn telur mentah  ?”

“You’re kidding me, Mom.”

“Mau coba tepung terigu atau baking soda ?”

“Mom, semua itu  menjijikkan. ”

Lalu Ibunya menjawab, “ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, maka akan menjadi kue yang enak.”

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan.

Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.

Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia  mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi.

Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.


Ngomong Soal Pornografi

August 7, 2008

Baru saja pulang ikut FGD tentang pornografi, dan langsung ke warnet, jadi pengin nunlis saja. Walau panas banget, tapi tetep ke warnet, maklum ada beberapa yang harus di cek melalui email.

Kembali ke pornografi, sampai kapanpun sebenarnya ngomong soal ini tidak akan pernah selesai, begitu juga dengan kelahirannya. Kita tidak pernah tahu kapan itu ada, karena sebenarnya pornografi sudah ada sejak sononya, cuma bangaimana kita memaknainya.

Sebenarnya semua kebali ke pikiran masing-masing. Kalau pikirannya sudah porno, sudah ngeres, liat apapun pasti akan mikir yang ngeres-ngeres. Maka dari itu pasti sulit untuk mengaturnya.

Ya dibilang sulit ya suli, tapi dbilang tidak ya bisa juga, kembali lagi ke anggota DPR-nya. Tapi bagaimanapun dan sampai kapanpun masalah pornografi akan menjadi perbincangan yang hangat. Di ada undang-undangnya ataupun tidak hal ini akan tetap menjadi sebuah perdebatan, karena tidak ada definisi yang tepat untuk sebuah kata ini.

So ya kembali ke pikiran masing-masing untuk soal porno ini.


Setelah Tempo Meminta Maaf

February 13, 2008

Sehari setelah penerbitan majalah tempo 4-10 Februari 2008 yang covernya menjadi perdebatan dimana-mana akhirnya pimpinan redaksi majalah ini meminta maaf kepada semua elemen masyarakat. Lantas apakah setelah permintaan maaf itu terucap semua menjadi beres?  Maaf langsung diberikan?

Belum tentu.

Cover majalah itu telah melukai hati beberapa masyarakat. Dan tentu saja karena hal itu berkaitan dengan simbol sebuah kepercayaan dan kesucian sebuah agama.

Lukisan itu memang bukan sekedar lukisan biasa yang dengan mudahnya dapat berganti rupa dengan seenaknya. Konon cerita lukisan itu ada dalam ayat suci mereka. Sebuah kepercayaan tentu saja, Perjamuan Terakhir.

Dengan membuat beda lukisan itu tetapi masih dalam suasana yang sama tentu saja telah melukai hati mereka. Sebenarnya hal yang sama juga terjadi ketika karikatur Nabi Muhamad dimuat dalam media, beberapa elemen masyarakat tidak dapat menerima hal itu.

Lantas apa bedanya?

Sebenarnya tidak ada bedanya. Ini adalah sebuah kepercayaan, kepercayaan yang bersifat sangat individual sekali karena kepercayaan agama adalah kepercayaan sebuah hubungan antara Tuhan dan individu masing-masing.

Ketika karikatur Nabi Muhamad ada di media maka kelompok beberapa elemen masyarakat memprotesnya. Ada dari mereka yang melakukan tindakan anarkis, katanya untuk membela agamanya?

Lantas bagaimana dengan ajaran agama yang merasa dilecehkan oleh cover majalah Tempo? Apakah mereka berhak untuk melakukan tindakan anarkis seperi ketika karikatur Muhamad ada di media massa? Untungnya mereka tidak melakukan hal itu. Bukan karena mereka minoritas, tapi mereka menyikapinya dengan kedewasaan dan kecerdasan emosi. Dan untungnya hal-hal anarkis itu tidak tejadi walau mereka sebenarnya sakit hati.

Lantas apakah setelah Majalah Tempo meminta maaf semua selesai. Bisa iya bisa tidak. Semua sudah terlanjut terjadi. Hati sudah tergores, luka sudah mengangga, tingga bagaimana mengobati luka itu.

Hal ini tentu dapat dijadikan pelajaran bagi Majalah Tempo dan juga media lainnya agar tidak mengulang kajadian seperrti itu. Kita memang memiliki kebebasan, tetapi kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Maka untuk satu kata kebebasan…harap hati-hati dengan kebebasan itu karena dengan kebebasan itu dapat menyulut api amarah orang lain.


Cover Majalah Tempo Minggu Ini

February 5, 2008

Awalnya sih memang gak terlalu peduli dengan cover majalah Tenpo edisi 4-10 Februari 2008 ini. Seperti biasa pagi-pagi datang, lihat sekilas aja terus disimpen. Tapi barusan ngebuka email teryata cover majalah itu sedang menjadi perdebatan hangat di beberapa milis.

Langsung aja dilihat dan memang benar pantes buat disikusikan, yah maklum karena menyangkut ajaran agama tertentu. Beberapa ini petikan pendapat dari beberapa anggota milis:

“Bagaimana rekan2 yg lain menyikapi gambar tersebut? Karena
keseluruhan gambar persis sama dengan karya The Last Super Leornardo
Da Vinci hanya wajah2nya saja yg diganti dan peralatan perjamuan juga
digambarkan mirip kedai warteg ada asbak, mangkok makan, piring2,
dll.

Kalo saya pribadi terus terang saya merasa sangat tersinggung dengan
gambar ini. Dengan adanya gambar ini saya beranggapan bahwa Majalah
Tempo telah berlaku tidak bijaksana dengan telah mengijinkan karya
yang saya sebut “Plagiat” ini kedalam majalahnya yang selama ini saya
anggap Tempo sangat edukatif dan intelek.”

atau yang ini

Saya justeru tertawa terbahak-bahak melihat cover tersebut. Ini adalah
cover yang punya cita-rasa tinggi. Kreativitasnya mengingatkan saya
akan cover majalah DR di tahun 1998 yang menggambarkan Suharto dalam
bentuk raja di kartu permainan. (Kepalanya ada di atas dan ada di
bawah).

Saya tak pernah terpikir bahwa dengan memasukkan Suharto di dalam
gambar “Perjamuan Terakhir” maka Tempo merendahkan Yesus. Ini tokh
hanya parodi. (Sama dengan joke yang sering kita dengar di masa Suharto
berada di puncak kekuasaannya: Konon kabarnya Suharto pernah minta
kalau seandainya dihukum, ia ingin disalib. Kenapa? Agar pada hari yang
ke-3 ia bisa bangkit lagi…..).

Karena itu juga kepada kawan-kawan saya orang Kristen yang mungkin akan
ribut (apalagi kalau pakai acara unjuk-rasa segala) saya mau
mengatakan, “Akh, nggak usah bikin malulah. Anda koq tak punya sense of
humour sih….?!”

Saya rasa hal yang dilakukan oleh majalah Tempo ini juga tidak bisa
dikategorikan plagiat. Semua orang tahu bahwa “Perjamuan Terakhir” itu
adalah lukisan Leonardo da Vinci. Dan tidak bisa juga dikategorikan
sebagai pelanggaran hak cipta, karena lukisan ini telah menjadi public
domain atau–sebagaimana halnya benda-benda purbakala menurut konvensi
internasional tentang hak cipta–paling tidak mejadi milik negara
Italia.

Jadi, kalau pemerintah dan rakyat Italia saja tidak ribut (atau mungkin
bahkan ikut tertawa terbahak-bahak); lha, ngapain kita ribut?

Horas,

Mula Harahap

ada lagi loh

Saya kemarin agak kaget juga melihat cover majalah Tempo, kok seperti ini ya? Meskipun saya beragama Islam
tapi saya tidak setuju dengan cover itu, selain ga lucu juga ga pantes lah…..Terkesan seperti kehabisan idea
aja………

ini juga

Saya beragama Kristen. Merasa bersyukur kepada Tuhan karena
dikaruniai semangat humor kepada saya sesuai dgn kebutuhan. Dgn kata
lain, citra rasa lawak secukupnya. Alhasil, saat melihat gambar
sampul majalah Tempo tsb, dlm hati bergumam : ini lelucon. Tapi
lelucon itu belum berhasil membuat saya terkekeh kekeh.

Lantas teringat film History of the World, karya Mel Brooks. Menurut
versi Brooks, adegan the last supper terjadi di sebuah restoran. Si
pelayan, Mel Brook sendiri, sedang memegang talam berwarna perak dlm
posisi sedemikian rupa sehingga cahaya yg dipantulkan talam itu
mengenai kepala yg digambarkan sebagai Yesus.

Sementara itu seorang pelukis, maksudnya Leonardo da Vinci,
mengabadikan adegan itu dalam lukisan di kanvas. Kata Brooks lewat
film itu, begitulah sejarah lahirnya lukisan the last supper yg
tersohor itu – mohon dicatat, lukisan da Vinci itu tidak identik
dengan agama Kristen, itu merupakan ekspresi estetis-religious si
pelukisnya. Lukisan itu sendiri tidak sakral, menurut saya.

Adegan lain, Musa mengangkat tongkatnya sehingga Laut Merah pun
terbelah. Ternyata, saat itu Musa sedang ditodong oleh seorang
bandit dari belakang.

Yang lebih konyol, film Monthy Python’s the Life of Brian dengan
adegan penyaliban yg betul-betul dibuat dgn semangat membanyol
(dengan lagu “the bright side of life”).

Saya merasa bersyukur olok-olok atau banyolan spt itu tidak membuat
saya tersinggung. Dlm konteks tiopik didskusi di atas,  ada satu
renungan, apakah gambar sampul Tempo edisi khusus Soeharto
itu  “enak dipandang dan perlu?”. Atau, “tidak enak dipandang
apalagi perlu”?

Ngomong-ngomong, agama mana yg memberikan ruang bagi humor (yg sehat
tentunya)?

dan masih banyak lagi tentunya komentar-komentar serupa. Mereka menanggapi ada yang setuju dan tidak. Seperti biasa masih kontroversi.


Bendera Setengah Tiang

January 29, 2008

Bendera itu telah berkibar dari kemarin. Hanya dibeberapa tempat memang. Tapi berdera itu berkibar setengah tiang. Apakah negeri ini sedang berkabung atas kematian? Atau negeri ini sedang mengamini atas kematian? Apakah masih ada rasa duka itu?

Tapi bendera itu tetap tidak dapat berbicara…hanya angin membelai lembut tubuhnya…dia tidak tahu apakah negeri ini sedang berduka???


Merenungi Kematian

January 28, 2008

 Soal kematian itu, semua orang membicarakannya, tapi apa inti kematian itu? Aku jedi pengin menayangkan tulisan ini didalam blog ini agar orang lain dapat membacanya pula.

Oleh A Sudiarja
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.28.01361683&channel=2&mn=11&idx=11
Semua manusia mati. Sokrates manusia. Sokrates mati.

Itulah contoh dari guru logika untuk menjelaskan silogisme, yakni
hukum penalaran yang menetapkan bahwa yang partikular selalu mengikuti
yang universal.

Pernyataan “semua manusia mati” merupakan premis pertama, sebagai
kenyataan universal yang diandaikan atau diterima umum. Sifatnya pasti.

Pernyataan kedua, “Sokrates manusia” merupakan premis tengah, sebagai
kenyataan baru, yakni ada seseorang (manusia) bernama Sokrates.

Pernyataan ketiga, “Sokrates mati” merupakan kesimpulan yang ditarik
dari logika bahwa Sokrates sebagai bagian dari manusia juga mengalami
kematian.

Semua dokter yang merawat orang sakit mengenal logika ini. Meski
demikian, mereka berusaha agar kematian bisa dicegah atau ditunda
sejauh mungkin, dengan cara apa pun.

Namun, yang lebih menarik dari logika kematian Sokrates adalah moral
kematian Sokrates. Sokrates mati bukan karena sakit atau karena
dibunuh penguasa, seperti terjadi pada diri orang-orang yang baik,
yang memperjuangkan hak asasi, tetapi karena minum racun. Dia minum
racun bukan karena “bunuh diri”, sebagaimana dikenal dalam banyak
kasus sosial, misalnya karena putus asa, stres, bosan hidup, atau
takut menghadapi masa depan.

Menurut keputusan pengadilan yang terdiri dari para hakim yang iri
pada pengaruhnya, Sokrates didakwa merusak anak-anak muda dan dijatuhi
hukuman mati karena mengajarkan cara berpikir yang kritis.

Dengan tenang ia menenggak racun, sebagai cara eksekusinya, dan sadar
pada kewajibannya untuk taat pada negara. Ia tidak minta grasi untuk
memperpanjang hidupnya. Ia melarang sobat-sobatnya mengumpulkan uang
untuk menyogok hakim guna pembebasannya. Sokrates menerima dan
mencintai nasib (amor fati), dan kelak diwarisi kaum Stoa.

Mitos kematian

Dalam buku Necrocultura (Castelvecchi, 1998). Fabio Giovannini
melukiskan sikap orang zaman ini berhadapan dengan kematian. Dari
kebudayaan yang dikembangkan orang zaman sekarang, misalnya dalam
lirik musik, fotografi, film, lukisan, atau upacara-upacara kematian
dan penguburan, tampak bahwa orang tidak lagi takut pada kematian.
Mereka tidak mau memitoskan kematian sebagaimana agama-agama di masa
lalu, dengan upacara-upacara yang mengelabui, menghias si mati seolah
mau bepergian sebentar, membayangkan janji mengenai kehidupan di
akhirat dan sebagainya.

Sebaliknya, kini budaya kematian mau memasuki realitas apa adanya,
dengan seluruh tragikanya, misalnya dengan memperlihatkan darah, badan
membusuk, daging yang lemah, dan sebagainya.

Analisa Giovannini tampaknya berlaku untuk dunia Barat, dengan budaya
pos-religius atau poskristianismenya. Necrocultura sepertinya
menawarkan penyelesaian pragmatis, di mana kematian bisa dipesan di
rumah sakit melalui eutanasi, atau dalam kasus kriminal melalui
pembunuhan, ditangani secara bisnis dengan kemasan peti mati, kereta
pengantar jenazah, upacara penguburan yang luks dan obituari di media.
Tak ada yang perlu ditakutkan, semua berjalan lancar. Tidak ada setan
atau roh gentayangan sebab dunia orang mati tidak terpisahkan dari
dunia orang hidup. Tidak ada lagi batas misteri antara kematian dan
kehidupan.

Lain lagi gambaran kematian dalam Village of the Watermills. Dalam
salah satu bagian dari delapan episode film Dreams (1990) ini,
sutradara Jepang—Akira Kurosawa—melukiskan mimpinya tentang sebuah
desa Kincir Air yang masyarakatnya dekat dengan alam. Mereka tidak
takut pada kematian, bahkan menyambutnya dengan gembira.

Seorang petualang yang datang ke sana bertanya kepada seorang kakek
tua dan mendapat keterangan, “yang penting bekerja keras, berusaha
hidup panjang. Setelah itu disyukuri.” Lalu petualang itu menyaksikan
penguburan seorang nenek yang meninggal pada usia 99 tahun.

Peristiwa itu dirayakan masyarakat dengan musik dan nyanyian.
Anak-anak menari dengan gembira sambil menaburkan bunga di depan
arak-arakan. Jauh berbeda dari upacara penguburan militer zaman ini,
yang begitu serius dan berat. Namun, ada hubungan mendalam yang perlu
dipikirkan saat kakek tua dari Village of the Watermills itu
mengatakan, “yang penting bekerja keras” dan “hidup panjang” dengan
kata-kata “disyukuri”.

Disyukuri

Orang perlu merenung untuk bisa sampai pada pengertian kata
“disyukuri” (be thanked). Apanya yang disyukuri? Hidupnya atau
matinya? Lebih-lebih karena ia menambahkan kata-kata, “kami tak
mempunyai kuil, atau imam.” Namun, upacara penguburan itu justru indah
dan membahagiakan (a nice happy funeral).

Sama-sama menafikan agama, yang mungkin mereka anggap sebagai lembaga
yang menabukan kematian, Akira Kurosawa dan Giovannini mempunyai
pandangan berbeda. Sementara Giovannini melukiskan Necrocultura
sebagai kenyataan masyarakat sekuler dewasa ini, dengan kebudayaan
pragmatisnya dalam segala segi kehidupan, termasuk kematian, Akira
Kurosawa melukiskan kematian dengan begitu akrab, sebagai bagian
proses alam yang wajar.

Namun, lebih dari itu, kata “disyukuri” dalam film Kurosawa mempunyai
bobot penilaian yang tidak bisa ditawar. Secara moral, tampaknya tidak
semua kematian bisa disyukuri. Ada orang yang diperpendek hidupnya
dengan paksa melalui pembunuhan, sebaliknya ada orang yang mampu
memperpanjang hidupnya karena kemajuan teknologi dan tawaran bisnis
medis yang luar biasa.

Namun, keduanya membuat kematian dijauhkan dari proses alami yang
wajar. Film Kurosawa seperti memberi inspirasi, agar orang mau bekerja
keras bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk mengabdi. Sesudah itu,
kematian menjadi akrab, bisa diterima dengan ceria dan disyukuri.

Dalam novel Yasunari Kawabata, The Old Capital (1962), ada episode
yang menarik, yakni saat Hideo memberi alasan mengapa ia melukis bunga
tulip dalam kimono yang dihadiahkan kepada Chieko, gadis pujaannya.
“Bunga tulip itu hidup,” katanya kepada Takichiro, ayah Chieko.

Bunga tulip hanya hidup sesaat tetapi memberi keindahan penuh. Dan
hidup yang diwarnai cinta seperti tulip, tak perlu berlama-lama.
Sesudah menyatakan diri, dengan rona keindahan dan aroma, bunga itu
mengakhiri hidupnya. Perpanjangan hidup hanya akan menjadi waktu yang
sia-sia.

A Sudiarja Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta; Redaktur Pelaksana Majalah Basis


“Pak Tua” Itu Akhirnya Berpulang Juga

January 28, 2008

24 hari sudah media masa selalu saja memberitakan soal kondisi “Pak Tua” yang sedang berada di rumah sakit Pertamina. Setelah 24 hari itu pula akhirnya “mungkin” berita yang mereka tunggu-tunggu itu datang juga. Ya…..”Pak Tua” itu telah kembali ke pangkuannya.

Sejenak perhatian masyarakat kembali terpusat pada kabar duka hari minggu tanggal 27 Januari 2008 sekitar jam 13.20-an mengenai “Pak Tua” yang telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Ya “Pak Tua” itu memang mantan penguasa nomor satu di negeri yang dinamakan Indonesia ini. Selama 32 tahun dia-Pak Tua-telah berkuasa, menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Kharismanya “mungkin” sampai hari ini masih dirasakan oleh sebagaian penduduk negeri ini, lantas kepergiannyapun membawa duka yang mendalam bagi negeri yang pernah dipimpinnya ini. Tapi kepergiannya “masih” menyisakan banyak persoalan bagi penerusnya.

Berita-wafatnya mantan penguasa-ini mungkin telah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Yah sejak “Pak Tua” masuk rumah sakit tanggal 4 Januari tak henti-hentinya media memberitakan kondisinya, sedikitpun ada perubahan pasti langsung masyarakat tahu. Ketika kondisi “Pak Tua” kritispun maka media sudah menduga-duga, apakah ini akhir segalanya? Tapi semua melecet.

Ramalan-ramalan-karena negeri ini senang dengan ramalan-mulai bermunculan, katanya “Pak Tua” akan meninggal pada hari Jumat, ketika hari yang ditunggu datang “Pak Tua” tetap saja masih menghirup nafas, walau dengan bantuan alat.

Ketika masyarakat mulai jemu, bosan dengan berita yang itu-itu saja, ketika itu pula “Pak Tua” itu mengehmbuskan nafasnya yang terkahir dan masyarakat di negeri ini kembali terhenyak.

Hari ini-dari kemarin sebenarnya-kembali media membombadir dengan berita tentang kepergian mantan penguasa itu. Dan memang berita itu yang ditunggu-tunggu penghuni negeri ini.

SELAMAT JALAN “PAK TUA” KENANGANMU AKAN BERSAMA KAMI. BAGAIMANAPUN DIRIMU KAU TELAH MENJADI BAGIAN DARI SEJARAH NEGERI INI


Blog: Aktualisasi atau Pencarian Diri

January 9, 2008

Ini mungkin blogku untuk yang kesekian kalinya. Aku sendiri kadang tidak tau mau aku apakan blog ini. Terlalu banyak ide di kepala yang sehingga membuat blog-blog yang aku buat yang sekedar lewat saja. Atau hanya dapat eksis untuk beberapa saat setelah itu entah kemana.

Blog-blog yang aku buat sebenarnya hanya untuk menyalurkan hobi menulisku. Tapi terkadang ketika pekerjaan sedang banyak kesempatan itu selalu terbuang begitu saja. Atau bahkan sudah ada ide tulisan, tetapi karena tidak ada waktunya akhirnya tidak pernah masuk ke dalam blog.

Selain itu blog ini akan aku isi apa juga terkadang menjadi kendala tersendiri. Walau akhirnya memang blog-blog yang aku bikin menjadi gado-gado, alias campur aduk jadi satu, dari mulai pengalaman pribadi, isu sosial dan segala macamnya.

Memang membuat blog sangat mudah sekali, tetapi bagaimana untuk mempertahankannya. Mungkin semua orang dapat dengan mudah membuat blog, dimanapun, tetapi bagaimana mempertahankan dan bagaimana membuat blog itu dikunjungi orang itu yang sulit. Saat ini mulai dari ibu rumah tangga sampai eksekutif muda mempunyai blog, tetapi hanya sedikit blog yang bagus.

Mungkin butuh motofasi untuk dapat mempertahankan blog agar tetap eksis dan tetap diisi setiap hari, walau akhirnya isinya jadi gado-gado. Maka dari itu aku tidak akan mengkhususkan blog ini akan membahas apa kedepannya agar aku sendiri tidak terfokus dengan satu isu, tetapi semua isu mungkin dapat aku bahas.

Kembali ke pertayaan awal, yang juga menjadi judul tulisan ini: Blog: Aktualisasi atau pencarian diri. Mungkin memang kedua-duanya. Dengan adanya blog kita dapat beraktualisasi, apalagi blog yang banyak dikunjungi. Tetapi bagaimana dengan pencarian diri? Apakah tepat blog dikatakan sebagai ajang pencarian diri? Hal itu bisa ditanyakan kembali kepada pembuat blog, sebenarnya untuk apa mereka membuat blog? Aktualisasi atau penjarian jati diri?