Perjalanan di Kalimantan Barat akhirnya membawa kami kepada Tugu Katulistiwa. Sebuah tugu yang di jadikan sebagai ikon kota Pontianak. Tugu ini terletak di Siantan, Pontianak Utara, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Pontianak ke arah Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak.
Tugu ini menjadi istimewa karena tugu ini dibangun sebagai pertanda bahwa daerah ini dilewati garis katulistiwa, garis nol derajat. Hanya ada beberapa daerah saja di dunia ini yang dilewati oleh garis katulistiwa. Garis katulistiwa atau garis ekuator itu sebenarnya hanyalah rekaan manusia, tentu saja kalau kita kembali lagi pada pelajaran geografi di masa sekolah dulu.
Dalam pelajaran geografi, Bumi diibaratkan dibagi menjadi dua bagian, yakni belahan utara dan belahan selatan. Dari pembagian itu, dapat dikatakan Kota Pontianak berada persis di tengah-tengah garis imajiner tersebut.
Peristiwa yang paling menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadi kulminasi, yakni Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu bayangan tugu “menghilang” beberapa detik, meskipun diterpa sinar Matahari. Kita yang berdiri di sekitar tugu juga akan hilang bayangannya selama beberapa saat.
Titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Bagi masyarakat Kalbar, peristiwa alam ini menjadi tontonan menarik sehingga menjelang kulminasi Matahari.
Berdasarkan prasasti terdapat di dalam kompleks Tugu Khatulistiwa, dikisahkan pada 31 Maret 1928 satu ekspedisi internasional yang dipimpin ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Pontianak untuk menentukan titik khatulistiwa.
Pada tahun itu juga dibangun tugu pertama berbentuk tonggak tanda panah kemudian disempurnakan pada tahun 1930. Setelah itu, arsitek Silaban (1938) menyempurnakan dan membangun tugu yang baru dengan empat tonggak kayu belian menopang lingkaran dengan anak panah penunjuk arah setinggi sekitar 4,40 meter.
Baru kemudian, pada tahun 1990, tugu direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu yang asli. Di atas kubah dibuatlah duplikat tugu berukuran lima kali lebih besar dibandingkan dengan tugu yang aslinya.
Peresmian dilakukan 21 September 1991 meski, setelah diukur kembali pada Maret 2005 dengan alat global positioning system (GPS), titik lintang nol derajat ternyata berada sekitar 117 meter ke arah Sungai Kapuas, dari tugu yang sekarang berdiri.
Tak ada seorangpun yang menyambut kedatangan kami, ketika kami tiba di kompleks tugu ini. Mungkin masih terlalu pagi, atau memang demikian keadaannya. Namun dari jauh tiba-tiba nampak tukang pakir yang mendekati mobil kami, mempersilahkan kami untuk pakir.
Sesaat kami mengamati suasana sekitar. Tugu ini benar-benar tidak terawat sama sekali. Bukankah tempat ini sebagai ikon kota Pontinak, lantas kenapa keadaannya sedemikian parah?
Keadaan yang demikian tidak menyurutkan niat kami untuk mengambil beberapa foto. Awalnya kami tidak dapat masuk ke dalam ruangan dimana di letakan tugu aslinya, tapi setelah beberapa saat baru kami mengetahui bahwa di ruangan itu sudah ada orangnya. Lantas kamipun dapat masuk juga.
Tidak memerlukan waktu terlalu lama di dalam untuk melihat tugu aslinya. Setelah mengambil beberapa foto akhirnya kamipun bergegas meninggalkan ruangan itu.
Sayang sekali memang sebuah tugu yang seharusnya dijadikan tempat istimewa dan dapat menarik wisatawan untuk datang tapi tidak dirawat dengan sebaik mungkin. Tak heran bila warga setempatpun menganggap tugu ini aja sebagai seonggok tugu saja, tidak ada yang istimewa sama sekali.
Posted by cous2
Posted by cous2
Posted by cous2