Jangan Jadi Gelas

September 23, 2008

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya yang  belakangan ini wajahnya
selalu tampak murung.  "Kenapa kau selalu murung, Nak? Bukankah banyak hal
yang indah di dunia ini?  Kemana perginya wajah bersyukurmu?"
 
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah.  Sulit bagi saya untuk
tersenyum.  Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.", jawab sang
murid muda. 
 
Sang Guru terkekeh.  "Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari.  Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."  Si murid pun
beranjak pelan tanpa semangat.  Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu
kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. 
 
"Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke segelas air itu.", kata
Sang Guru.  "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.", lanjut
gurunya.
 
Si murid pun melakukannya.  Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. 
"Bagaimana rasanya?", tanya Sang Guru. 
 
"Asin dan perutku jadi mual.", jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis. 
 
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. 
"Sekarang kau ikut aku.".  Sang Guru membawa muridnya ke danau di
dekat tempat tinggal  mereka.  
 
"Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau."  Si murid
menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara.  Rasa asin di
mulutnya belum hilang.  Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak
dilakukannya.  Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. 
 
"Sekarang, coba kau minum air danau itu.",  kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. 
 
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau dan membawanya ke
mulutnya lalu meneguknya.  Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di
tenggorokannya Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
 
"Segar, segar sekali!", kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. 
 
"Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana.  Dan
airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.  Dan sudah pasti air danau ini
juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.  Terasakah rasa garam
yang kau tebarkan tadi?"
 
"Tidak sama sekali.", kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi.  Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan
muridnya itu meminum air danau sampai puas. 
 
"Nak.",  kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.  "Segala
masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.  Tidak kurang, tidak lebih. 
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami
sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap
manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.  Tidak ada satu pun manusia,
walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah." 
 
Si murid terdiam, mendengarkan.  "Tapi, Nak, rasa asin dari penderitaan
yang kau alami itu sangat tergantung dari kebesaran hati yang menampungnya. 
Jadi, Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.  Jadikan hati
dalam dadamu itu menjadi sebesar danau."

Waktu Tuhan Selalu Indah

September 23, 2008

Kadang kita bertanya dlm hati & menyalahkan Tuhan, “apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?” atau “kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya ?”

Here is a wonderful explanation. ..

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota .

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, “Tentu saja, I love your cake.”

“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya  menawarkan. “Yaiks,” ujar anaknya.

“Bagaimana dgn telur mentah  ?”

“You’re kidding me, Mom.”

“Mau coba tepung terigu atau baking soda ?”

“Mom, semua itu  menjijikkan. ”

Lalu Ibunya menjawab, “ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, maka akan menjadi kue yang enak.”

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan.

Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.

Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia  mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi.

Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.


Mudik

September 15, 2008

Mudik….mudik…mudik…

satu kata yang tentu saja semua orang bicara mengenai hal tersebut ketika bulan puasa tiba. Mudik menjadi sebuah rutinas yang setiap lebaran tiba. Bahkan ada seorang teman yang berkata kalau lebaran tidak mudik mending mati saja.

Tapi apakah memag demikian mudik menjadi sebuah kejawiban bagi semua orang? Mungkin bukan sebuah kewajiba, tapi kalau sebuah rutinitas memang benar. Tapi mudik menjadi sebuah kewajiban, mungkin itu pikiran kerdil beberapa orang saja.

Lebaran harus berkumpul dengan keluarga memang benar, tapi kan hari-hari lain masih tetap bisa berkumpul dengan keluarga.

Anggapan mudik menjadi sebuah kewajiban ini yang akhirnya membawa beberapa orang rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit utuk bisa sampai kampung halamannya. Dan ribuan tiket baik pesawat, bis, kereta, perahu habis dibeli pemudik.

Berburu tiket menjadi sebuah kesibukan memasukan awal bulan puasa, dan mengatur jafwal kembali beraktifitas kembali tak luput dari rutinas. Yeah begitulah, setiap puasa langsung…mudik…..mudik…mudik….


RUU Porno

September 15, 2008

Yeah lagi-lagi membahas mengenai undang-undang pornografi. Rancangan undang-undang ini dari awal memang sudah membuat kontroversi bagi masyarakat Indonesia. Tentu saja bicara mengenai pornografi pasti ada yang pro dan kontra, itu jelas sekali. Namun, bila itu buat sebuah kebijakan pasti akan menimbulkan kontroversi.

Pornografi memang mempunyai definisi masing-masing, maka dari itu anggota dewan tidak dapat mengenalisir istilah ini. Dalam RUU yang sedang menjadi perdebatan publik ini istilah pornografi saja masih belum menemukan titik temu. Selain itu juga aturan yang terkandung didalamnya masih membuat orang akan bingung.

Dengan adanya rencana disyahkan RUU yang menjadi kontroversi ini dalam waktu dekat tentu membuat kita menjadi kalang kabut, apa yang bisa kita lakukan agar RUU itu tidak disyahkan sebelum menemukan titik temu yang memuaskan semua kalangan.

Mungkin parlemen sengaja mengambil momen ramandhan untuk mengesahkan RUU tersebut, tapi apakah memang sudah layak RUU itu disyahkan, sepertinya memang harus dikaji kembali.


Setengah Jalan dalam Berpuasa

September 15, 2008

Tak terasa puasa telah memasuki hari ke 15. Ibarat kita berjalan, sudah sampai setengah jalan. Puasa tahun di terasa sangat cepat sekali, semua mungkin karena kesibukanku sehingga hari-hari dalam menjalaninya berlalu begitu dengan cepatnya.

Puasa tahun ini berada di musim kemarau, sehingga panas terik matahari terkadang megusik imanku. Hal itu terasa apabila diriku harus kesana-kemari mengejar narasumber, haus seakan tak tertahan, tapi syukur alhamdulilah masih bisa bertahan sampai bedug Magrib.

Kebersamaan dengan teman-teman kos menambah kegembiraan pula dalam menjalani ibadah puasa tahun ini. Buka puasa dan shur bareng menjadi rutinas kami bersama-sama, sehingga kami tetap menjadi sebuah keluarga.

Semoga kami semua memperoleh kemenangan di akhir ramandhan nanti. Amin