Ada perasaan berat ketika aku harus melangkah meninggalkan ruangan ini, ruangan yang telah 4 tahun lamanya mengisi hari-hariku, tempat yang telah menjadi bagian dari hidupku . Di sini dit empat ini telah banyak kenangan tertorehkan.
Tidak ada salam perpisahan dari siapapun. Aku sendiri memang tak mengharapkannya ada kata berpisah diantara kita. Namun apa salahnya bila kata itu terucap dari seseorang yang katanya memang memimpin organisasi ini. Mungkin bukan salam perpisahan, karena memang tidak ada perpisahan, tetapi apa salahnya mengucapkan sekedar ucapan terima kasih sudah 8 tahun lamanya bergabung dengan organissasi ini.
Tak satupun dari mereka, kalangan manajemen itu menyampaikan hal itu, apalagi sekedar memberi kenangan tanda jasa, menampakan batang hidungnyapun tak juga dilakukan. Pengambdian selama 8 tahun itu tak ada artinya bagi mereka. Hari terakhirku bekerja di kantor inipun seakan berlalu begitu saja, tidak ada yang berarti sama sekali.
Luka lama itu akhirnya terkuak kembali, ketika beberapa tahun yang lalu seorang sahabat yang saat ini sudah almarhumah menjalani hari terakhir mengabdi di kantor ini, manajernya yang saat ini memimpin organisasi ini tak mengucapkaan salam perpisahan atau apapun. Bagaimanapun alangkah baiknya hal tersebut terucap dari seorang pemimpin. Sahabat itu menitikan air maata ketika menceritakaan perasaannya kepadaku, ketika kami sama-sama melangkaah menuju tempat masing-masing.
Saat ini, peristiwa yang aku anggap tak akan pernah terjadi padaku, teryata aku alami juga. Aku merasakan juga apa yang sahabat itu rasakan. Menyakitkan memang. Rasa kecewa, marah, sedih semuanyaa campur aduk .
Sahabatku masih merasakan pesta perpisahan dengan sahabat-sahabat yang lain. Itu artinyaa pengabdian dia selama dia bergabung masih ada yang menghargai. Pemimpin yang menjabat pada masa itu juga meemberikan kenang-kenangan sebagai tanda jasa. Beberapa manajer yang lainyapun menampakan diri, sekedar mengucapkan salam perpisahan, walau manajernya sendiri tak menampakan diri sampai saat terakhir.
Diriku tak pernah merasakan hal itu. Memanggilku untuk menanyakan kenapa aku memutuskan keluar dari kantor inipun tak juga mereka lakukan. Aku sendiri merasa tak ada konflik dengan siapapun. Demikiaan juga dengan peekerjan. Situaasi yang ada sudah tidak memungkinkan diriku untuk tetap bergabung dengan organisasi ini, akhirnya akupun memutuskan untuk keluar dari kantor ini.
Keadan yang demikian akhirnyaa memantapkan diriku bahwa aku telah mengambil sebuah keputusan yang tepat. Aku menjadi tahu dan paham siapa sebenarnya orang yang memimpin organissasi ini. Hal itu juga menunjukan pada diriku bagaimana sebenarnya pemimpin itu berperilaku, mereka tak pernah menghargai orang lain, walau itu karyawannya sendiri.
Kadang aku berfikir apakah memang hal itu yang mereka perjuangkan? Di luar sana mereka menyuarakan tentang kesetaraan, tentang keadilan, tentang demokrasi, tentang hak asasi, tapi apakah merekaa memang paham betul dengan apa yang sedang mereka suarakan itu? Jangan-jangan apa yang mereka katakan itu bertentangan dengan apa yang merekaa lakukan.
Memang mudah buat orang untuk berteori, tetapi untuk mengimplementasikaan teori itu dalam kehidupan sehari-hari tak banyak yang dapat melakukannya. Di luaran mereka menyuarakan soal demokrasi, tetapi ketika di dalam organisasi yang dipimpinnya demokrasi itu sirna, yang ada keputusan satu arah. Pengambilan keputussan yang selama ini ingin mereka kikis, tapi mereka sendiri mempraktekan apa yang selama ini mereka lawan.
Selama 8 tahun bergabung dengan organissasi ini pahit dan manisnya kehidupan telah aku rasakan. Masa-masa bahagia itu pernah mengisi hari-hariku. Masa-masa di mana kami menjadi sebuah keluarga yang saling mendukung. Sebuah keluarga yang saling berbagi antara kesedihan dan kebahagiaan.
Kebahagiaan dan kebersamaan itu telah berakhir begitu saja ketika ego tidak dapat dikendalikaan lagi. Hasrat untuk menjadi penguasa itu telah memporakporandakan semuannya.
Awalnya tak pernah disangka ketika seseorang yang kita pikir baik dan dapat mengerti apa yang kita inginkan kita berikan kepercayaan ke pundaknya. Teryata setelah kekuasaan itu telah diraihnyaa dia menjaddi sesseorang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya.
Kekuasaan itu telah merubah segalanya. Ketika kekusaan sudah ada ditangaan dia bisa belaku sesuka hati, karena di situ dia mempunyai power yang dulunya tak ada pada dirinya. Dulu dia mengkritik penguasa yang sedang berkuasa saat itu, tetapi ketika kekuasaan itu ada ditangannya dia pun berbuat apa yang pernah dikritiknya, bahkan melebihinya. Ibarat orang menjilat ludahnyaa kembali.
Seseorang memang mudah sekali berubah, apalagi berkenaan dengan keekuasaan. Kekuasaan yang diraihnya telah memperlihatkan sosok asli yang selama ini mungkin ditutupinya.
Kadang mereka tidak sadar bahwa kekuasaan itu hanya bersifat sementara. Apakah mereka tak sadar bahwa hukum karma itu ada? Atau memang mereka tak mempercayainya? Semua kembali pada kepercayaaan masing-masing. Tetapi yang jelas Tuhan tidak tidur, DIA melihat apa yang terjaddi pada hambanya. Roda itu berputar, kadang diatass, ada kalanya berada dibawah. Ingatlah ketika diatas jangan dirimu sombong dan ketika berada dibawah jangan terlalu kau bersedih. Tetaplah berdoa dan berusaha.
Akupun semaakin memantapkaan langkahku meninggalkan ruangan ini. Melangkah dengan penuh semangaat untuk meraih cita-cita yang tertunda, melangkah dengan sebuah harapan baru akan hari esok yang akan lebih baik. Melangkah dengan menutup lembaran buku lama dan membuka kembali lembaran yang baru.