Pengacara: Pengangguran Banyak Acara

April 23, 2008

Mungkin sebutan itu saat ini pantas aku sandang, pengancara. Tapi bukan pengacara dalam arti yang sebenarnya, pengancara dalam arti pengangguran banyak acara.

Ya sejak aku memutuskan keluar dari pekerjaanku, tadinya aku pikir aku akan banyak dirumah atau tidak punya kegiatan sama sekalia, tapi teryata tetap saja banyak kesibukan dimana-mana. Ya aku sih enjoy saja menikmati hari-hari, apalagi kegiatan-kegiatan itu dalam rangka capacity building buat diri sendiri.

Sebenarnya sebutan itu bukan aku sendiri yang menyandangnya, beberapa temenku juga menyandang nama yang sama, pengacara alias pengangguran banyak acara. Dan memang kami sering menyebut diri kami seperti itu.

Beberapa orang di sekitar kamipun akhirnya bingung juga, apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Ya pertayaan dari orang tua tau anak pasti ada kan, seperti “kan kamu udah tidak kerja kok masih sibuk saja sih”, pertayaan-pertayaan seperti itu pasti muncul.

Bagi yang tidak tahu apa yang kami kerjakan pasti akan bertanya seperti itu, tapi karena kami yang menjalani kegiatan itu, ya kami tau kenapa kami menjadi sibuk. Banyak sekali yang harus kami persiapkan untuk dapat membangun sebuah organisasi baru. Persiapan itu tidak hanya materi tetapi juga inmateri, termasuk dari sisi mental kami.

Maka dari itu tiap hari kami melakukan cpacity building untuk memenuhi kebutuhan inmateri dan embuat proposal untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya materi. So kesibukan kami itu kan ada artinya, walau kami dibilang pengangguran tapi kami masih mempunyai banyak kegiatan kan….


Arogansi Partai Gurem

April 3, 2008

“Pantes saja tidak lolos verifikasi, kelakuannya saja seperti itu’ Kata meluncur begitu saja ketika melihat kelakuan anggota-anggota partai gurem itu. Mereka sama sekali tidak mempunyai etika bagaimana bicara di depan umum. Dan di dalam sebuah forum tentu saja. Kelakuannya benar-benar kayak preman pasar.

Bayangkan saja dalam sebuah forum mereka tidak dapat berlaku sopan santun. Atau paling tidak bagaimana menghormati orang lain. Paling tidak dapat menunjukan bahwa mereka sebenarnya layak untuk dapat duduk di lembaga pemerintah itu.

Kalau dilihat dari pendidikannya sih seharusnya mereka cerdas dan mempunyai otak yang encer. Semua bisa dilihat ketika mereka memperkenalkan diri mereka. Mereka bangga akan gelar yang disandangnya, dengan bangganya memperkenalkan diri nama saya Doktor bla…bla..bla…wow….. Pendidikannya sudah tinggi sekali. Tapi benar tidak gelar itu diraihnya dengan penuh kerja keras. Atau dari jalur yang benar, atau gelar itu berhasil dibelinya??

Ya boleh juga kan curiga, maklum banyak sekali orang-orang yang suka membeli gelar. Kalau memang mereka menempuh gelar itu sesuai dengan jalurnya ya tidak masalah, tapi apa memang perlu setiap memperkenalkan diri harus ditambah embel-embel gelar itu??? Aduh malu-maluin saja deh.

Langsung kebayang dipikiran saja sih bagaimana kalau orang-orang macam itu yang duduk di lembaga pemerintahan itu. Aduh negeri ini pasti amburadul deh. Dalam sebuah seminar mengenai verifikasi parpol saja mereka tidak dapat menjaga tingkah laku mereka. Ada untungnya juga sih kalau KPU tidak meloloskannya.

Selain isinya orang-orang tidak punya otak, nama partai-partai itu juga aneh-aneh. Tidak masuk akal saja. Itu sebagai salah satu bukti bahwa mereka itu memang orang-orang yang tidak kreatif. Jangan-jangan banyak juga kebohongan-kebohongan yang telah mereka lakukan. Ya belajar korupsi kecil-kecilan. Kalau missalnya masuk menjadi anggota dewan kan bisa korupsi yang lebih besar.

Lihat saja anggota-anggota dewan kita yang saat ini duduk di pemerintah, banyak sekali yang tidak punya visi misi. Yang ada di otak mereka hanyalah duit…duit…dan duit. Juga gila hormat tentu saja. Tetapi mereka tak pernah berfikir bahwa mereka duduk disana itu sebagai wakil rakyat. Mereka membawa aspirasi. Tapi mereka tak pahami itu.

Selain tak punya sopan santun atau etika, pertayan-pertayaan yang muncul dalam sesi tanya jawabpun telah memperlihatkn bahwa sebenarnya mereka tak punya otak. Dari 9 penanya pada termin pertama, 7 diantaranya adalah pertayaan yang samaa. Bodoh sekali bukan??

Dengan begitu apakah mereka masih dapat tetap berbangga dengan gelar doktornya? Kalau aku sendiri malu sekali. Dalam sebuah yang dihadiri orang banyak berbuat sebuah kebodohan. Tapi kalau hal itu mayoritas bagaimana?? Ya tetap saja bagaimanapun kan kita harus dapat berperilaku yang mencerminkan bahwa kita itu mempunyai pendidikan dan punya otak tentu saja. Ya kalau tidak mau dibilang preman pasar harus dapat menjaga wibawa dong. Dapat menempatkan diri dan dapat berperilaku yang menunjukan akan kecerdsnnya.

Bayangkan saja adai seorang baapak-bapak yang sudah tua, botak laagi, teriak-teriak dari arah belakang hanya menanyakan satu han yang sebenarnya sudah dibahas, tetapi karena dia datDng terlambat masih saja di tanyakan. Aduh totol sekali deh.

Suasana yang terlihatpun semakin memperlihatkan betapa bobroknya orang-orang yang ada di dalam parrtai itu. Untuk saja tidak lolos verifikasi. Mengaturr diri sendiri saja tidak bisa bagaimana mau mengatur orang lain….payah bangets deh. Jangan sampai deh Negara ini dipim[in oleh orang-orang macam itu.


Tanpa Salam Perpisahan

April 3, 2008

Ada perasaan berat ketika aku harus melangkah meninggalkan ruangan ini, ruangan yang telah 4 tahun lamanya mengisi hari-hariku, tempat yang telah menjadi bagian dari hidupku . Di sini dit empat ini telah banyak kenangan tertorehkan.

Tidak ada salam perpisahan dari siapapun. Aku sendiri memang tak mengharapkannya ada kata berpisah diantara kita. Namun apa salahnya bila kata itu terucap dari seseorang yang katanya memang memimpin organisasi ini. Mungkin bukan salam perpisahan, karena memang tidak ada perpisahan, tetapi apa salahnya mengucapkan sekedar ucapan terima kasih sudah  8 tahun lamanya bergabung dengan organissasi ini.

Tak satupun dari mereka, kalangan manajemen itu menyampaikan hal itu, apalagi sekedar memberi kenangan tanda jasa, menampakan batang hidungnyapun tak juga dilakukan. Pengambdian selama 8 tahun itu tak ada artinya bagi mereka. Hari terakhirku bekerja di kantor inipun seakan berlalu begitu saja, tidak ada yang berarti sama sekali.

Luka lama itu akhirnya terkuak kembali, ketika beberapa tahun yang lalu seorang sahabat yang saat ini sudah almarhumah menjalani hari terakhir mengabdi di kantor ini, manajernya yang saat ini memimpin organisasi ini tak mengucapkaan salam perpisahan atau apapun. Bagaimanapun alangkah baiknya hal tersebut terucap dari seorang pemimpin. Sahabat itu menitikan air maata ketika menceritakaan perasaannya kepadaku, ketika kami sama-sama melangkaah menuju tempat masing-masing.

Saat ini, peristiwa yang aku anggap tak akan pernah terjadi padaku, teryata aku alami juga. Aku merasakan juga apa yang sahabat itu rasakan. Menyakitkan memang. Rasa kecewa, marah, sedih semuanyaa campur aduk .

Sahabatku masih merasakan pesta perpisahan dengan sahabat-sahabat yang lain. Itu artinyaa pengabdian dia selama dia bergabung masih ada yang menghargai. Pemimpin yang menjabat pada masa itu juga meemberikan kenang-kenangan sebagai tanda jasa. Beberapa manajer yang lainyapun menampakan diri, sekedar mengucapkan salam perpisahan, walau manajernya sendiri tak menampakan diri sampai saat terakhir.

Diriku tak pernah merasakan hal itu. Memanggilku untuk menanyakan kenapa aku memutuskan keluar dari kantor inipun tak juga mereka lakukan. Aku sendiri merasa tak ada konflik dengan siapapun. Demikiaan juga dengan peekerjan. Situaasi yang ada sudah tidak memungkinkan diriku untuk tetap bergabung dengan organisasi ini, akhirnya akupun memutuskan untuk keluar dari kantor ini.

Keadan yang demikian akhirnyaa memantapkan diriku bahwa aku telah mengambil sebuah keputusan yang tepat. Aku menjadi tahu dan paham siapa sebenarnya orang yang memimpin organissasi ini. Hal itu juga menunjukan pada diriku bagaimana sebenarnya pemimpin itu berperilaku, mereka tak pernah menghargai orang lain, walau itu karyawannya sendiri.

Kadang aku berfikir apakah memang hal itu yang mereka perjuangkan? Di luar sana mereka menyuarakan tentang kesetaraan, tentang keadilan, tentang demokrasi, tentang hak asasi, tapi apakah merekaa memang paham betul dengan apa yang sedang mereka suarakan itu? Jangan-jangan apa yang mereka katakan itu bertentangan dengan apa yang merekaa lakukan.

Memang mudah buat orang untuk berteori, tetapi untuk mengimplementasikaan teori itu dalam kehidupan sehari-hari tak banyak yang dapat melakukannya. Di luaran mereka menyuarakan soal demokrasi, tetapi ketika di dalam organisasi yang dipimpinnya demokrasi itu sirna, yang ada keputusan satu arah. Pengambilan keputussan yang selama ini ingin mereka kikis, tapi mereka sendiri mempraktekan apa yang selama ini mereka lawan.

Selama 8 tahun bergabung dengan organissasi ini pahit dan manisnya kehidupan telah aku rasakan. Masa-masa bahagia itu pernah mengisi hari-hariku. Masa-masa di mana kami menjadi sebuah keluarga yang saling mendukung. Sebuah keluarga yang saling berbagi antara kesedihan dan kebahagiaan.

Kebahagiaan dan kebersamaan itu telah berakhir begitu saja ketika ego tidak dapat dikendalikaan lagi. Hasrat untuk menjadi penguasa itu telah memporakporandakan semuannya.

Awalnya tak pernah disangka ketika seseorang yang kita pikir baik dan dapat mengerti apa yang kita inginkan kita berikan kepercayaan ke pundaknya. Teryata setelah kekuasaan itu telah diraihnyaa dia menjaddi sesseorang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya.

Kekuasaan itu telah merubah segalanya. Ketika kekusaan sudah ada ditangaan dia bisa belaku sesuka hati, karena di situ dia mempunyai power yang dulunya tak ada pada dirinya. Dulu dia mengkritik penguasa yang sedang berkuasa saat itu, tetapi ketika kekuasaan itu ada ditangannya dia pun berbuat apa yang pernah dikritiknya, bahkan melebihinya. Ibarat orang menjilat ludahnyaa kembali.

Seseorang memang mudah sekali berubah, apalagi berkenaan dengan keekuasaan. Kekuasaan yang diraihnya telah memperlihatkan sosok asli yang selama ini mungkin ditutupinya.

Kadang mereka tidak sadar bahwa kekuasaan itu hanya bersifat sementara. Apakah mereka tak sadar bahwa hukum karma itu ada? Atau memang mereka tak mempercayainya? Semua kembali pada kepercayaaan masing-masing. Tetapi yang jelas Tuhan tidak tidur, DIA melihat apa yang terjaddi pada hambanya. Roda itu berputar, kadang diatass, ada kalanya berada dibawah. Ingatlah ketika diatas jangan dirimu sombong dan ketika berada dibawah jangan terlalu kau bersedih. Tetaplah berdoa dan berusaha.

Akupun semaakin memantapkaan langkahku meninggalkan ruangan ini. Melangkah dengan penuh semangaat untuk meraih cita-cita yang tertunda, melangkah dengan sebuah harapan baru akan hari esok yang akan lebih baik. Melangkah dengan menutup lembaran buku lama dan membuka kembali lembaran yang baru.


Jenuh

April 3, 2008

Perut ini sudah minta diisi. Dari tadi pagi hanya air saja yang masuk, tapi aku tak berniat untuk beranjak dari tempat tidurku.

Menimbulkan suarapun tak ingin aku lakukan. Semoga semua menyangka bahwa aku tak ada di tempat.

Jenuh rasanya, tapi aku coba menjalaninya. Rasanya memang tiada kebebasan. Pertayaan-pertayaan yang tidak penting selalu saja keluar ketika aku harus berada di rumah.

Aku ingin bebas, ingin bahagia ketika aku memutuskan untuk tidak kemana-mana, tapi selalu saja ada pertayaan, knapa?

Mungkin ada kesan bersembunyi. Atau memang aku sembunyi?
Ya aku sedang bersembunyi, karena aku berharap tak ada yang tau aku berada di kamar ini.

Sebenarnya semua tak perlu aku lakukan, tapi aku hanya menghindari pertayaan-pertayaan itu. Pertayaan yang membuat aku tak nyaman tentunya.


Persaingan

April 2, 2008

Masih soal interview.
Teryata dalam interview itu selalu ada saja sebuah persaingan. Aku sendiri gak anggap itu persaingan kok, aku masih percaya soal jodoh.
Jadi kalau memang itu jodohku pasti aku dapatkan kok, kalau tidak, ya memang bukan jodoh.
Ya semua karena pesaing-pesaing itu adalah teman-teman sendiri, jadi saling mendoakan saja.
Kita lihat info selanjutnya aja de kalau gitu, habis kita sendiri belum tau keputusanya seperti apa.


Interview

April 2, 2008

Tiba-tiba saja hari ini dapat telp untuk interview. Bayangin aja di telp jam 11 untuk interview jam 3. Tapi untungnya bisa datang.
Tadinya si dikiranya udah gak keterima, maklum tes tertulisnya dah lama, eh gak taunya dipanggil lagi untuk tes selanjutnya.
Ya untuk kerjaan ini si antara berharap atau tidak, tapi semua kelanjutan dari sebuah proses.
Sebenarnya memang sudah ada harapan baru terutama dengan lembaga baru dan tawaran jadi tim peneliti, walau belum ada kepastian si.