
Matahari mulai tengelam ketika kami tiba di tempat ini. Awalnya aku mengira bahwa tempat ini adalah sebuah pelabuhan, tapi aku salah, tempat ini hanyalah tempat wisata, dimana perahu-perahu yang ada digunakan untuk sekedar menikmati makan dan minum, tetapi tak jarang juga kita dapat menggunakan perahu itu untuk menyusuri sungai, tentu saja dengan menikmati makanan dan minuman yang bisa kita pesan.
Jalan menuju kawasan ini agak sempit dan masuk ke perkampungan, maka tak heran bila awalnya aku mengira daerah ini adalah sebuah pelabuhan. Masyarakat sekitar menamakan tempat ini kafe sarasehan, yaitu sebuah tempat untuk menghilangkan penat sesat atau haanya untuk menikmaati makan daan minum di pinggir sungai.
Matahari yang mulai tengelam memperindah pemandangaan di sekitarnya, kamipun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, segeera kami berfoto ria. Kami tidak mau melewatkaan begitu saja indahnya cahaya matahari yang mulai tengelam menuju peraduaanyaa.
Kami segera naik ke atas perahu yang nantinya akan membawa kami menyusuri sungai ini. Di atas perahupun kami massih saja asyik berfoto ria. Pemandangan diatass perahu lebih indah, apalaagi air sungai yang juga memantulkaan cahaya kemasan dari sinar matahri. Gelombang yang besar dan angin yang berhembus kencang tidak menyurutkan niat kami untuk mengambil foto di atass perahu. Awalnya agak takut untuk naik ke bagian atas dari perahu ini, tetapi karena keinginan yang kuat, rasa takut itu sirna juga. Memang ada beberapa dari kami yang akhirnya tidak ikut naik.
Teryata memang benar pemandangaan diatas perahu lebih indah dibanding ketika berada di dalam perahu. Kami dapat memandang jauh ke perkampungan penduduk dan juga melihat dengan jelas jembatan yang melintas di atas sungai. Angin yang berhembus kencang dan matahari yang hampir menghilaang benar-benar sebuaah pemandangan yang jarang sekali kami dapatkaan. Kami benar-benar memburu waktu untuk mendapatkan gambar yang indah.
Kami kembali turun ke bagian dalam kapal ketika matahri sudah benar-benar tengelaam. Kamipun dimintaa untuk memesan makanan kareena katanya perjalanan yang akan kita tempuh cukup lama. Karena belum terlalu lapar dan nanti kami masih dihadapkan dengan rencanaa makan malam bersama maka kamipun hanyaa memesan minuman saja sebagai teman perjalanan kami.
Sungai ini sangat lebar sekaali, maka tak salah jika masyarakaat sekitaar menggunakan sungai ini sebagai alat transportasi, selain itu juga sebagai tempat wisataa. Masyarakat yang dinggal di aliraan sungaai ini jugaa memanfaatkan aair sungai yang mengalir untuk kebutuhaan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Kita dapat melihat pemandangan itu sepenjaang aliraan sungai, tanpa malu-malu mereka akan melepas busana mereka untuk mandi di pinggir sungai.
Kami masih harus menunggu beberapa saat lagi untuk menikmati perjalanan di atas air ini. Perahu ini hanya di isi kami dan satu penumpaang lainnya yang juga ingin menikmati pemandaangaan sekitaar sungai kapuas. Dia memesan beberapaa makanan yang rasanyaa nikmat sekali.
Adzan Magrib mulai terdengar ketika nahkodaa mulai menjalankan mesin perahu. Ketika perahu mulai berjalaan menyusuri sungai kami mengambil foto-foto kembali dengan bantuaan cahaya yang adaa. Perlahan-lahan malampun mulai menyelimuti bumi, hanya lampu-laampu di kejauhaan yang nampak. Kami tidak daapat melihat dengan jelas pemandangan di sekitar, tetapi hal itu tidak mengurangi kebahaagian kami.
Suara burung wallet terdengar hampir di sepanjang aliran sungai. Konon burung itu sengaja di pelihara. Mereka menempaati bangunan-bangunan tua yang memang sudah tidaak dipergunakan lagi atau sengaja di bangun untuk pertenakan.
Matahari sudaah tidak naampaak lagi, cahayanyapun sudah benar-benar mengilaang, yang ada hanyalaah gelap dan beberaaa tempat menjaddi sangat gelap karena tidak ada cahaya yang menyinarinyaa.
Seperti di tempaat-tempat lain di luar Pulau Jawa, di tempat inipun listrik sering sekali mati, maka hanya merekaa yang menpunyaai gensset yang dapat menikmati cahaya ketika aaliran listrik dipadamkan. Kami tetap menikmaati perjalanaan di dalam perahu walau gelap menyelimuti bumi dan telah pula membaatassi pengelihatan kami.
Perahu teryata berjalan cukup jauh juga sehinggaa kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan di dalam perahu kecuali hanya mengobrol. Untuk mengambil foto-foto jelas tidak mungkin karena keadaaan sekitaar sudah semakin gelap. Goncangaan kapal yang lumayan keras membuat jepretan yang dihasilkan agak pudar, maka dari itu kami menikmatinya dengan berbincang di dalam kapal.
Angin tetap berhembus dengan kencang, rintik hujanpun turun membasahi bumi, tapi hanya sesaat sehingga kami tetap dapat menikmaati perjalan ini.
Perahu telah berbalik arah kembali ke tempat dimana tadi dia di berangkatkan. Dengan cahaya yang seaadaanyaa perahu itu mencobaa menembus gelapnya malaam membelah air yang mengalir cukup deras. Sesekali massih terlihat wargaa sekitar yang masih beraktifitas di pinggir sungai, tapi tidak jelas apa yang merekaa lakukan.
Perjalanan pulang perahu tidak terlalu lama dibandingkan ketika berangkat tadi. Tidak terasa perahupun akhirnya sampai juga pada posisi dimana tadi dia di berangkatkan. Di tempat perahu yang lain masih adaa beberapaa orang yang sedang menikmati makan malam.
Setelah perahu di tambatkan kamipun segera melompat kedaraatan. Setelah meelaakukaan beberaapaa pembayaraan kami segeraa meninggalkan tempat ini dengan membawa kenangan di dalam haai masing-masing. Kami semuaa tentu berfikir mungkinkah kami dapat kembali ke tempat ini lagi? Tak ada yang tahu tentunyaa. Sopir yang membawa kami bilang kalau kami meminum air sungai itu maka kami akan kembali ke tempat itu lagi, tapi who know’s, tak ada yang tahu bukan? Atau mungkin itu hanya kepercayaan masyarakat setempat saja. Tapi yang jelas tak adaa satupun dari kami yang meminum air sungai itu walau keinginaan untuk datang lagi itu jelas ada…tapi entah kapan.