Poligami Ala Aa’ Gym

March 19, 2008

Aa’ Gym, sapa sih yang gak kenal orang ini, seorang ulama yang kalau ngomong begitu lemah lembutnya. Cara bertuturnya diatur dengan baiknya. Dia pernah menjadi seorang ulama yang sangat dikagumi oleh ibu-ibu dan juga bapak-bapak tentunya.

Usahanya ada dimana-mana, mulai dari TV, Percetakan, Pemondokan dan lain-lain. Wajahnyapun sering sekali muncul dimana-mana. Tentu saja dengan demikian hartanyapun bertambah banyak sekali. Setiap sabtu dan minggu, pondokannya penuh sekali oleh orang-orang yang berkunjung ke pesantrennya untuk sekedar mendengarkan pengajiannya.

Tapi masa keemasan itu hancur begitu saja seiring keputusannya untuk berpoligami. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang tadinya mengemarinya dengan begitu cepatnya meninggalkan dirinya. Mulai mencari sosok baru yang tentu saja lebih menghormati sosok perempuan sebagai istri dan manusia tentu saja.

Teryata keputusan untuk berpoliami itu adalah keputusan yang salah besar bagi karir Aa’ Gym. Dengan hilangnya masa keemasannya maka hancur pula segala usahanya. Namun Aa’ tetep berkeyakinan bahwa kehancurannya bukan karena dia berpoligami, lantas karena apa?

Ya teryata poligami yang dilakukannya telah menyakiti semua pihak. Apapun alasannya dengan poligami pasti ada yang disakiti. Tidak ada seorangpun yang bisa berbuat adil soal poligami. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, apalagi untuk dapat berbuat adil. Keadilan itu hanya milik Tuhan semata.

Poligami Aa’ Gym teryata masih berlanjut sampai hari ini. Tiba-tiba saja pagi ini beberapa infotainemnt memberitakan mengenai kondisi rumah tangga Aa’ Gym. Rumah tangga yang katanya dibangun atas dasar agama bukan karena libido itu sedang bermasalah. Istri mudanya lebih banyak menghabiskan waktunya di rumahnya yang di depok, sedangkan istri tuanya ada di Bandung. Selain itu istri tuanya jarang sekali datang ke rumah yang di Depok, sedangkan Aa’ Gym diberitakan berada di rumah di Depok.

Selidik punya selidik teryata antara istri tua-dan istri muda sudah tidak dapat akur lagi. Lantas rumah tangga yang seperti apa yang katanya dibangun atas nama agama? Dan poligami yang seperti apa yang tidak akan menyakiti seorangpun.

Mungkin saat ini wartawan infotaimen sedang berlomba-lomba mencari beritanya, benar atau tidak berita yang sedang berkembang, kembali tunggu di infotaimen.

Jangan pernah melakukan poligami kalau tidak akan hancur.

Tapi siapa pula yang tidak dengar


Mampir Ke Tugu Khatulistiwa

March 18, 2008

dscn8271.jpgPerjalanan di Kalimantan Barat akhirnya membawa kami kepada Tugu Katulistiwa. Sebuah tugu yang di jadikan sebagai ikon kota Pontianak. Tugu ini terletak di Siantan, Pontianak Utara, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Pontianak ke arah Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak.

Tugu ini menjadi istimewa karena tugu ini dibangun sebagai pertanda bahwa daerah ini dilewati garis katulistiwa, garis nol derajat. Hanya ada beberapa daerah saja di dunia ini yang dilewati oleh garis katulistiwa. Garis katulistiwa atau garis ekuator itu sebenarnya hanyalah rekaan manusia, tentu saja kalau kita kembali lagi pada pelajaran geografi di masa sekolah dulu. dscn8280.jpg

Dalam pelajaran geografi, Bumi diibaratkan dibagi menjadi dua bagian, yakni belahan utara dan belahan selatan. Dari pembagian itu, dapat dikatakan Kota Pontianak berada persis di tengah-tengah garis imajiner tersebut.

Peristiwa yang paling menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadi kulminasi, yakni Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu bayangan tugu “menghilang” beberapa detik, meskipun diterpa sinar Matahari. Kita yang berdiri di sekitar tugu juga akan hilang bayangannya selama beberapa saat.

Titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Bagi masyarakat Kalbar, peristiwa alam ini menjadi tontonan menarik sehingga menjelang kulminasi Matahari.

dscn8295.jpgBerdasarkan prasasti terdapat di dalam kompleks Tugu Khatulistiwa, dikisahkan pada 31 Maret 1928 satu ekspedisi internasional yang dipimpin ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Pontianak untuk menentukan titik khatulistiwa.

Pada tahun itu juga dibangun tugu pertama berbentuk tonggak tanda panah kemudian disempurnakan pada tahun 1930. Setelah itu, arsitek Silaban (1938) menyempurnakan dan membangun tugu yang baru dengan empat tonggak kayu belian menopang lingkaran dengan anak panah penunjuk arah setinggi sekitar 4,40 meter.

Baru kemudian, pada tahun 1990, tugu direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu yang asli. Di atas kubah dibuatlah duplikat tugu berukuran lima kali lebih besar dibandingkan dengan tugu yang aslinya.

Peresmian dilakukan 21 September 1991 meski, setelah diukur kembali pada Maret 2005 dengan alat global positioning system (GPS), titik lintang nol derajat ternyata berada sekitar 117 meter ke arah Sungai Kapuas, dari tugu yang sekarang berdiri.

Tak ada seorangpun yang menyambut kedatangan kami, ketika kami tiba di kompleks tugu ini. Mungkin masih terlalu pagi, atau memang demikian keadaannya. Namun dari jauh tiba-tiba nampak tukang pakir yang mendekati mobil kami, mempersilahkan kami untuk pakir.

dscn8284.jpgSesaat kami mengamati suasana sekitar. Tugu ini benar-benar tidak terawat sama sekali. Bukankah tempat ini sebagai ikon kota Pontinak, lantas kenapa keadaannya sedemikian parah?

Keadaan yang demikian tidak menyurutkan niat kami untuk mengambil beberapa foto. Awalnya kami tidak dapat masuk ke dalam ruangan dimana di letakan tugu aslinya, tapi setelah beberapa saat baru kami mengetahui bahwa di ruangan itu sudah ada orangnya. Lantas kamipun dapat masuk juga.

Tidak memerlukan waktu terlalu lama di dalam untuk melihat tugu aslinya. Setelah mengambil beberapa foto akhirnya kamipun bergegas meninggalkan ruangan itu.

Sayang sekali memang sebuah tugu yang seharusnya dijadikan tempat istimewa dan dapat menarik wisatawan untuk datang tapi tidak dirawat dengan sebaik mungkin. Tak heran bila warga setempatpun menganggap tugu ini aja sebagai seonggok tugu saja, tidak ada yang istimewa sama sekali.


10.000 BC: Kisah Cinta Zaman Purba

March 13, 2008

10bcp2.jpgCinta dan kata-kata indah untuk mengungkapkannya tidak hanya dialami manusia modrn. Konon keindahan cinta pun telah merebak sejak 10.000 SM. Maka, ketika gadis bermata biru bernama Evolet membuat D’leh jatuh cinta, kata-kata indah pun berhampuran untuknya. “Kaulah cahaya di hatiku” ujar D’leh

Kisah cinta itulah yang menjadi bara dalam film 10.000 BC. D’leh terus memelihara cintanya untuk Evolet. 10bc5.jpg

Namun untuk menjadikan Evolet miliknya, D’leh harus bersaing dengan pemuda lainnya. , Caranya, tentu ala zama purba. Siapapun yang menancapkan tombaknya di tubuh mammoth – gajah primitif yang jauh lebih besar dari gajah serta berbulu tebal – memperoleh haknya atas Evolet dan menjadi pemimpin suku Tagahl.

10bc12.jpgD’leh lantas keluar sebagai pemenang. Akan tetapi, peramal desa mengkhawatirkan hal itu. Ia belum percaya D’leh sanggup memimpin sukunya menghadapi kekuatan yang lebih besar dari pata mammoth.

Suatu ketika sekawanan penjahat berkuda datang ke desa suku Yagahl. Mereka menculik para pemuda termasuk Evolet yang menawan.

Setelah mereka pergi, D’leh bersama bekas ketua suku Yagahl, Tic ‘Tic dan beberapa pemuda lain bertekad mencari anggota sukunya yang ditawan. Dari gunung es, mereka turun menyusuri hutan. Dalam petualangannya, pemuda lain bahkan ikut tertangkap menyisakan D’leh berdua dengan Tic ‘Tic. 10bc6.jpg

Kendati tinggal bedua mereka terus berjalan. Setibanya padang gurun D’leh terperosok di dalam lubang bersama seekor macan bergigi taring. Sang macan terjerat perangkap manusia di dalam lubang, D’leh yang iba lantas membebaskan macan itu. Ketika melanjutkan perjalanan D’leh dan Tic ‘Tic sampai ke kampung suku berkulit hitam.

10bc-1.jpgTak disangka, macan yang sama menyerang kampung, D’leh yang mengenal macan itu lalu ‘berbicara’ dengannya. Meminta supaya macan besar tersebut pergi baik-baik. Teryata, bagi suku kulit hitam, kemampuan D’leh berbicara dengan macan adalah bukti datangnya pemburu besar. Sesuai ramalan orang bijak suku mereka.

Jadilah, D’leh mempimpin berbagai suku kulit hitam. Semua dipimpinnya menyerang para penculik yang berada di gunung para dewa. Para penculik itu teryata menyekap ribuan orang untuk dijadikan budak demi pembangunan kuil bagi dewa-dewa.

Dari judulnya dapat di tebak tentunya gambar yang akan muncul. Sang sutradara dapat menghadirkan gambar itu dengan paparan yang sangat gamblang. Maka hadirlah binatang-binatang purba yang sangat besar dan suku-suku kuno – mulai dari suku berbadan pendek, suku yang menyempalkan gading di dagunya, hingga suku yang tinggal di semak-semak. Serta aksi jagoan manusia purba.

10bc10.jpgPenonton serasa melihat alam saat manusia belum merusaknya. Gunung es yang nampak begitu dingin dan ganasnya sampai gurun pasir yang menyesatkan.

Kemunculan binatang-binatang purba yang sangat besarpun membawa penonton untuk berkhayal kalau saja binatang sebesar itu masih ada saat ini.

Di akhir cerita film ini agak mengecewakan, karena ada ke san dipaksakan agar dapat happy ending. Selamat menonton film ini ya munpung masih di putar di bioskop tentunya.


Tidur

March 13, 2008

Siapa sih yang nggak pernah tidur….semua orang pasti pernah dong…bahkan menjadi sebuah kewajiban mungkin. Lantas berapa seringkah kita tidur??? Atau mungkin berapa lama?? Ini yang mungkin berbeda-beda atau mungkin tergantung kualitas tidurnya kali nyenyak atau nggak.

dsc01358.jpgTapi kalau tidur sebagai hobi gimana??? Atau memang kerjaannya tukang tidur…itu mah memang pemalas.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak dapat tidur malem…alias sore-sore dan ngantuk banget. Apakah itu juga di bilang pemalas???

Beda-beda kan jawabnya???

Ya tidur memang sudah menjadi kebutuhan setiap manusia, di mana ketika kita tidur pada saat itu pula kita mengembalikan tenaga kita yang telah terbuang. Ibarat mesin lagi di istirahatkan terlebih dahulu.

Lalu berapa lama sih seharusnya tidur itu. Ya ini juga macam-macam juga. Tetapi kalau memang dia demen tidur gimana alias tidak betah bergadang???

Ada juga loh yang bela-belain tidur malam karena memang ritme kerjanya malem alias ketika malem lebih sunyi dan dapat memperoleh inspirasi. Ya kayak kalong gitu kali ya.

dsc01360.jpgTapi bagaimanapun alasannya tidur menjadi sebuah kebutuhan atau bahkan kewajiban dan sebisa mungkin tidur dalam waktu yang cukup, karena apapun yang berlebih atau berkurang kan tidak bagus…loh…maksudnya apa ya…


Piknik ke TMII

March 12, 2008


100_0596.jpgTaman Mini Indonesia Indah….siapa sih yang nggak tau nama itu? Mungkin namanya sudah sangat familiar sekali apalagi dulu ketika TVRI masih berjaya sering sekali nonggol di TV, tapi apakah yang tau namanya itu pernah kesana?? Belum tentu.

Bagi mereka yang tinggal di Jakarta mungkin sudah sering sekali lewat daerah tersebut tetapi untuk masuk??? Belum pasti juga ya. Tapi untuk yang dari daerah, Taman Mini sering juga di jadikan sebagai salah satu tempat tujuan wisata di samping Monas tentunnya.

dsc01185.jpgTaman Mini Indonesia Indah atau TMII bisa di bilang sebagai miniaturnya Indonesia. Disana ada rumah-rumah adat dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia yang sudah sulit sekali dapat kita temui. Kalau ingin tau banyak soal kekayaan kebudayaan Indonesia, mungkin tempat ini menjadi salah saru lokasi yang layak untuk di kunjungi.

100_0586.jpgKetika mengunjungi tempat ini mesti menyediakan tenaga yang ekstra, maklum banyak sekali tempat yang harus di kunjungi dan itu sangat luas sekali. Lebih enak sih jalan kaki, karena bisa mampir di setiap anjungan. Bayangkan saja kalau di Indonesia ini ada 33 propinsi, maka anjungan yang bisa di kunjungi sama dengan jumlah propinsi yang ada. Belum lagi setiap anjungan bisa sangat luas sekali.100_0587.jpg

Bagi yang hobi berfoto, semua tempat di sini layak untuk di foto, apalagi antara satu rumah dan rumah yang lainnya selalu berbeda. 100_0526.jpgBelum lagi tempat-tempat yang lainnya. Kalau misalnya era foto digital belum ada jadi kebayang berapa banyak rol film yang mesti di habiskan untuk mengabadikan yang ada di dalam tempat ini.

Hari minggu mungkin menjadi hari yang tepat untuk menikmati tempat ini. Yah mungkin akan sangat ramai sekali, tetapi karena tempatnya sangat luas sekali maka keramaian itu tak akan begitu terasa. Di samping itu beberapa anjungan akan mengadakan acara sendiri-sendiri berupa pertunjukkan kesenian daerah masih-masing. Makanya tak salah bila mengunjungi tempat ini di hari minggu.100_0581.jpg

Mungkin di butuhkan waktu sehari penuh untuk dapat menikmati seluruh isi yang ada di tempat ini. Ketika masuk ke tempat ini kita betapa mengaguminya betapa Indonesia ini kaya dengan kebudayaan. Banyak sekali yang dapat kita pelajari di sini.

dsc01292.jpgBagiku sudah beberapa kali melakukan kunjungi ke tempat ini, tapi masih banyak orang yang tinggal di Jakarta dan sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta belum pernah menginjakan kakinya di Taman Mini Indonesia Indah. Tenpat ini bisa dijadikan alternatif tempat wisata dan buat belajar tentu saja.

Beberapa minggu yang lalu aku kembali mengadakan kunjungan ke tempat ini, dan kekaguman atas kekayaan akan budaya negeri ini masih terus ada, dan waktu yang adapun tidak cukup untuk dapat memasuki semua rumah adat yang ada, yang tertinggal hanyalah kenangan yang diabadikan lewat foto-foto ini tentunya.

 

dsc01198.jpg

pic_0011.jpg


Menikmati Matahari Tengelam di Sungai Kapuas

March 12, 2008

dscn8147.jpg

Matahari mulai tengelam ketika kami tiba di tempat ini. Awalnya aku mengira bahwa tempat ini adalah sebuah pelabuhan, tapi aku salah, tempat ini hanyalah tempat wisata, dimana perahu-perahu yang ada digunakan untuk sekedar menikmati makan dan minum, tetapi tak jarang juga kita dapat menggunakan perahu itu untuk menyusuri sungai, tentu saja dengan menikmati makanan dan minuman yang bisa kita pesan.

Jalan menuju kawasan ini agak sempit dan masuk ke perkampungan, maka tak heran bila awalnya aku mengira daerah ini adalah sebuah pelabuhan. Masyarakat sekitar menamakan tempat ini kafe sarasehan, yaitu sebuah tempat untuk menghilangkan penat sesat atau haanya untuk menikmaati makan daan minum di pinggir sungai.

dscn8162.jpgMatahari yang mulai tengelam memperindah pemandangaan di sekitarnya, kamipun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, segeera kami berfoto ria. Kami tidak mau melewatkaan begitu saja indahnya cahaya matahari yang mulai tengelam menuju peraduaanyaa.

dscn8159.jpgKami segera naik ke atas perahu yang nantinya akan membawa kami menyusuri sungai ini. Di atas perahupun kami massih saja asyik berfoto ria. Pemandangan diatass perahu lebih indah, apalaagi air sungai yang juga memantulkaan cahaya kemasan dari sinar matahri. Gelombang yang besar dan angin yang berhembus kencang tidak menyurutkan niat kami untuk mengambil foto di atass perahu. Awalnya agak takut untuk naik ke bagian atas dari perahu ini, tetapi karena keinginan yang kuat, rasa takut itu sirna juga. Memang ada beberapa dari kami yang akhirnya tidak ikut naik.

dscn8165.jpgTeryata memang benar pemandangaan diatas perahu lebih indah dibanding ketika berada di dalam perahu. Kami dapat memandang jauh ke perkampungan penduduk dan juga melihat dengan jelas jembatan yang melintas di atas sungai. Angin yang berhembus kencang dan matahari yang hampir menghilaang benar-benar sebuaah pemandangan yang jarang sekali kami dapatkaan. Kami benar-benar memburu waktu untuk mendapatkan gambar yang indah.

Kami kembali turun ke bagian dalam kapal ketika matahri sudah benar-benar tengelaam. Kamipun dimintaa untuk memesan makanan kareena katanya perjalanan yang akan kita tempuh cukup lama. Karena belum terlalu lapar dan nanti kami masih dihadapkan dengan rencanaa makan malam bersama maka kamipun hanyaa memesan minuman saja sebagai teman perjalanan kami.

Sungai ini sangat lebar sekaali, maka tak salah jika masyarakaat sekitaar menggunakan sungai ini sebagai alat transportasi, selain itu juga sebagai tempat wisataa. Masyarakat yang dinggal di aliraan sungaai ini jugaa memanfaatkan aair sungai yang mengalir untuk kebutuhaan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Kita dapat melihat pemandangan itu sepenjaang aliraan sungai, tanpa malu-malu mereka akan melepas busana mereka untuk mandi di pinggir sungai.

dscn8166.jpgKami masih harus menunggu beberapa saat lagi untuk menikmati perjalanan di atas air ini. Perahu ini hanya di isi kami dan satu penumpaang lainnya yang juga ingin menikmati pemandaangaan sekitaar sungai kapuas. Dia memesan beberapaa makanan yang rasanyaa nikmat sekali.

Adzan Magrib mulai terdengar ketika nahkodaa mulai menjalankan mesin perahu. Ketika perahu mulai berjalaan menyusuri sungai kami mengambil foto-foto kembali dengan bantuaan cahaya yang adaa. Perlahan-lahan malampun mulai menyelimuti bumi, hanya lampu-laampu di kejauhaan yang nampak. Kami tidak daapat melihat dengan jelas pemandangan di sekitar, tetapi hal itu tidak mengurangi kebahaagian kami.

Suara burung wallet terdengar hampir di sepanjang aliran sungai. Konon burung itu sengaja di pelihara. Mereka menempaati bangunan-bangunan tua yang memang sudah tidaak dipergunakan lagi atau sengaja di bangun untuk pertenakan.

Matahari sudaah tidak naampaak lagi, cahayanyapun sudah benar-benar mengilaang, yang ada hanyalaah gelap dan beberaaa tempat menjaddi sangat gelap karena tidak ada cahaya yang menyinarinyaa.

Seperti di tempaat-tempat lain di luar Pulau Jawa, di tempat inipun listrik sering sekali mati, maka hanya merekaa yang menpunyaai gensset yang dapat menikmati cahaya ketika aaliran listrik dipadamkan. Kami tetap menikmaati perjalanaan di dalam perahu walau gelap menyelimuti bumi dan telah pula membaatassi pengelihatan kami.

Perahu teryata berjalan cukup jauh juga sehinggaa kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan di dalam perahu kecuali hanya mengobrol. Untuk mengambil foto-foto jelas tidak mungkin karena keadaaan sekitaar sudah semakin gelap. Goncangaan kapal yang lumayan keras membuat jepretan yang dihasilkan agak pudar, maka dari itu kami menikmatinya dengan berbincang di dalam kapal.

Angin tetap berhembus dengan kencang, rintik hujanpun turun membasahi bumi, tapi hanya sesaat sehingga kami tetap dapat menikmaati perjalan ini.

Perahu telah berbalik arah kembali ke tempat dimana tadi dia di berangkatkan. Dengan cahaya yang seaadaanyaa perahu itu mencobaa menembus gelapnya malaam membelah air yang mengalir cukup deras. Sesekali massih terlihat wargaa sekitar yang masih beraktifitas di pinggir sungai, tapi tidak jelas apa yang merekaa lakukan.

dscn8173.jpgPerjalanan pulang perahu tidak terlalu lama dibandingkan ketika berangkat tadi. Tidak terasa perahupun akhirnya sampai juga pada posisi dimana tadi dia di berangkatkan. Di tempat perahu yang lain masih adaa beberapaa orang yang sedang menikmati makan malam.

Setelah perahu di tambatkan kamipun segera melompat kedaraatan. Setelah meelaakukaan beberaapaa pembayaraan kami segeraa meninggalkan tempat ini dengan membawa kenangan di dalam haai masing-masing. Kami semuaa tentu berfikir mungkinkah kami dapat kembali ke tempat ini lagi? Tak ada yang tahu tentunyaa. Sopir yang membawa kami bilang kalau kami meminum air sungai itu maka kami akan kembali ke tempat itu lagi, tapi who know’s, tak ada yang tahu bukan? Atau mungkin itu hanya kepercayaan masyarakat setempat saja. Tapi yang jelas tak adaa satupun dari kami yang meminum air sungai itu walau keinginaan untuk datang lagi itu jelas ada…tapi entah kapan.


Pada Suatu Hari Nanti

March 4, 2008

Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impiankupun tak di kenang lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau tak akan letih-letihnya ku cari