Di Warnet

February 29, 2008

Aku duduk diantara kursi-kursi yang tersembunyi itu. Dirikupun ikut ditelan juga oleh kotak-kotak dalam ruangan ini. Suara ketikanpun terdengar dimana-mana, ya dalam sebuah ruangan yang sempit, tapi penuh orang dan lumayan panas, ada berada dalam ruangan ini.

Sebuah karenainternet di kantor tidak jalan, sehingga dirikupun harus masuk ke warnet ini. Keinginan untuk ke warnet ini memang sudah lama, tapi selalu saja berfikir buat apa ke sini kalau toh di kantor masih punya akses.

Tapi hari ini akhirnya aku berada dalam ruangan ini, diantara mereka yang sedang asyik, entah mencari informasi atau hanya main game belaka. Atau mungkin sama dengan aku harus melihat beberapa email yang masuk.

Warnet ini berisi anak-anak SMA, itu baru aku ketahui setelah aku masuk ke dalam ruangan ini. Awalnya memang gak males, tapi karena kebutuhan mau tidak mau aku harus tetap masuk ruangan ini.

Agak berisik sih, tapi ya tidak apa, aku coba menikmati saja. Lama-lama panas juga dalam ruangan ini, tapi tak menggapalah. Dan aku tidak tahu sampai jam berapa akan berada dalam ruangan ini.


RESIGN

February 26, 2008

Resign….

Kata itu yang selama ini selalu aku pikirkan, kapan dapat resign dari kerjaanku selama ini. Sebenarnya hal itu dapat dilakukan kapan saja, tetapi tetap saja masih ada keraguan dan ketakutan.

Belum adanya pekerjaan baru mungkin menjadi momok yang menakutkan untuk mengatakan hal itu. Tetapi karena keadaan dan situasi akhirnya terucap juga kata-kata itu dari mulutku.

Iya…setelah diminta untuk menandatangani MOU baru langsung pengin ngomong saja. Dan setelah itu memang lega, ada sesuatu yang terlepaskan dari dalam diriku.

Resign…memang itu yang aku harapkan walau nanti kedepannya seperti apa belum tahu, tapi tetap saja melangkah.


Setelah Tempo Meminta Maaf

February 13, 2008

Sehari setelah penerbitan majalah tempo 4-10 Februari 2008 yang covernya menjadi perdebatan dimana-mana akhirnya pimpinan redaksi majalah ini meminta maaf kepada semua elemen masyarakat. Lantas apakah setelah permintaan maaf itu terucap semua menjadi beres?  Maaf langsung diberikan?

Belum tentu.

Cover majalah itu telah melukai hati beberapa masyarakat. Dan tentu saja karena hal itu berkaitan dengan simbol sebuah kepercayaan dan kesucian sebuah agama.

Lukisan itu memang bukan sekedar lukisan biasa yang dengan mudahnya dapat berganti rupa dengan seenaknya. Konon cerita lukisan itu ada dalam ayat suci mereka. Sebuah kepercayaan tentu saja, Perjamuan Terakhir.

Dengan membuat beda lukisan itu tetapi masih dalam suasana yang sama tentu saja telah melukai hati mereka. Sebenarnya hal yang sama juga terjadi ketika karikatur Nabi Muhamad dimuat dalam media, beberapa elemen masyarakat tidak dapat menerima hal itu.

Lantas apa bedanya?

Sebenarnya tidak ada bedanya. Ini adalah sebuah kepercayaan, kepercayaan yang bersifat sangat individual sekali karena kepercayaan agama adalah kepercayaan sebuah hubungan antara Tuhan dan individu masing-masing.

Ketika karikatur Nabi Muhamad ada di media maka kelompok beberapa elemen masyarakat memprotesnya. Ada dari mereka yang melakukan tindakan anarkis, katanya untuk membela agamanya?

Lantas bagaimana dengan ajaran agama yang merasa dilecehkan oleh cover majalah Tempo? Apakah mereka berhak untuk melakukan tindakan anarkis seperi ketika karikatur Muhamad ada di media massa? Untungnya mereka tidak melakukan hal itu. Bukan karena mereka minoritas, tapi mereka menyikapinya dengan kedewasaan dan kecerdasan emosi. Dan untungnya hal-hal anarkis itu tidak tejadi walau mereka sebenarnya sakit hati.

Lantas apakah setelah Majalah Tempo meminta maaf semua selesai. Bisa iya bisa tidak. Semua sudah terlanjut terjadi. Hati sudah tergores, luka sudah mengangga, tingga bagaimana mengobati luka itu.

Hal ini tentu dapat dijadikan pelajaran bagi Majalah Tempo dan juga media lainnya agar tidak mengulang kajadian seperrti itu. Kita memang memiliki kebebasan, tetapi kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Maka untuk satu kata kebebasan…harap hati-hati dengan kebebasan itu karena dengan kebebasan itu dapat menyulut api amarah orang lain.


Hujan Semalam

February 6, 2008

Hujan Semalam Menyisakan Pesan

Memberikan Salam Diatas Batu Nisan

Pesan Salam Menjadi Goresan

Dari Yang Terkesan

Pesan Malam Menyisakan Tangisan

Yang Menyesatkan

Dalam Ruangan Yang Paspasan

Membenamkan Sebuah Tusukan

Menyisakan Sebuah Ingatan

Yang Tak Kan Terlupakan

Dalam Menjalankan Kehidupan

Untuk Menjemput Impian

Sebelum Dikuburkan

Dalam Lubang Yang Disiapkan

Ditengah Ruangan

Di Jalan Berbatuan


Daun-daun Yang Mulai Berguguran

February 5, 2008

Daun-daun itu mulai berguguran. Meninggalkan pohon yang selama ini telah menghidupinya.Daun-daun itu gugur bukan karena dia sudah tua. Bukan juga karena musim gugur telah Tiba.

Musim semi baru saja datang, walau agak trelambat. Tetapi daun-daun itu mulai berjatuhan. Mereka tidak jatuh ke bawah tapi mereka mencoba mencari pohon lain yang dapat menghidupinya. Pohon yang dapat memberikan kesuburan. Pohon yang dapat memindahkanya dari bawah keatas.

Daun-daun lainnya masih menunggu, kapan gilirannya untuk juga meninggalkan pohon yang selama ini menghidupinya.

Bukan tidak dapat berterima kasih, tetapi pohon itu sudah tidak dapat memberikan perlindungan. Pohon itu akan membunuhnya dengan perlahan


Cover Majalah Tempo Minggu Ini

February 5, 2008

Awalnya sih memang gak terlalu peduli dengan cover majalah Tenpo edisi 4-10 Februari 2008 ini. Seperti biasa pagi-pagi datang, lihat sekilas aja terus disimpen. Tapi barusan ngebuka email teryata cover majalah itu sedang menjadi perdebatan hangat di beberapa milis.

Langsung aja dilihat dan memang benar pantes buat disikusikan, yah maklum karena menyangkut ajaran agama tertentu. Beberapa ini petikan pendapat dari beberapa anggota milis:

“Bagaimana rekan2 yg lain menyikapi gambar tersebut? Karena
keseluruhan gambar persis sama dengan karya The Last Super Leornardo
Da Vinci hanya wajah2nya saja yg diganti dan peralatan perjamuan juga
digambarkan mirip kedai warteg ada asbak, mangkok makan, piring2,
dll.

Kalo saya pribadi terus terang saya merasa sangat tersinggung dengan
gambar ini. Dengan adanya gambar ini saya beranggapan bahwa Majalah
Tempo telah berlaku tidak bijaksana dengan telah mengijinkan karya
yang saya sebut “Plagiat” ini kedalam majalahnya yang selama ini saya
anggap Tempo sangat edukatif dan intelek.”

atau yang ini

Saya justeru tertawa terbahak-bahak melihat cover tersebut. Ini adalah
cover yang punya cita-rasa tinggi. Kreativitasnya mengingatkan saya
akan cover majalah DR di tahun 1998 yang menggambarkan Suharto dalam
bentuk raja di kartu permainan. (Kepalanya ada di atas dan ada di
bawah).

Saya tak pernah terpikir bahwa dengan memasukkan Suharto di dalam
gambar “Perjamuan Terakhir” maka Tempo merendahkan Yesus. Ini tokh
hanya parodi. (Sama dengan joke yang sering kita dengar di masa Suharto
berada di puncak kekuasaannya: Konon kabarnya Suharto pernah minta
kalau seandainya dihukum, ia ingin disalib. Kenapa? Agar pada hari yang
ke-3 ia bisa bangkit lagi…..).

Karena itu juga kepada kawan-kawan saya orang Kristen yang mungkin akan
ribut (apalagi kalau pakai acara unjuk-rasa segala) saya mau
mengatakan, “Akh, nggak usah bikin malulah. Anda koq tak punya sense of
humour sih….?!”

Saya rasa hal yang dilakukan oleh majalah Tempo ini juga tidak bisa
dikategorikan plagiat. Semua orang tahu bahwa “Perjamuan Terakhir” itu
adalah lukisan Leonardo da Vinci. Dan tidak bisa juga dikategorikan
sebagai pelanggaran hak cipta, karena lukisan ini telah menjadi public
domain atau–sebagaimana halnya benda-benda purbakala menurut konvensi
internasional tentang hak cipta–paling tidak mejadi milik negara
Italia.

Jadi, kalau pemerintah dan rakyat Italia saja tidak ribut (atau mungkin
bahkan ikut tertawa terbahak-bahak); lha, ngapain kita ribut?

Horas,

Mula Harahap

ada lagi loh

Saya kemarin agak kaget juga melihat cover majalah Tempo, kok seperti ini ya? Meskipun saya beragama Islam
tapi saya tidak setuju dengan cover itu, selain ga lucu juga ga pantes lah…..Terkesan seperti kehabisan idea
aja………

ini juga

Saya beragama Kristen. Merasa bersyukur kepada Tuhan karena
dikaruniai semangat humor kepada saya sesuai dgn kebutuhan. Dgn kata
lain, citra rasa lawak secukupnya. Alhasil, saat melihat gambar
sampul majalah Tempo tsb, dlm hati bergumam : ini lelucon. Tapi
lelucon itu belum berhasil membuat saya terkekeh kekeh.

Lantas teringat film History of the World, karya Mel Brooks. Menurut
versi Brooks, adegan the last supper terjadi di sebuah restoran. Si
pelayan, Mel Brook sendiri, sedang memegang talam berwarna perak dlm
posisi sedemikian rupa sehingga cahaya yg dipantulkan talam itu
mengenai kepala yg digambarkan sebagai Yesus.

Sementara itu seorang pelukis, maksudnya Leonardo da Vinci,
mengabadikan adegan itu dalam lukisan di kanvas. Kata Brooks lewat
film itu, begitulah sejarah lahirnya lukisan the last supper yg
tersohor itu – mohon dicatat, lukisan da Vinci itu tidak identik
dengan agama Kristen, itu merupakan ekspresi estetis-religious si
pelukisnya. Lukisan itu sendiri tidak sakral, menurut saya.

Adegan lain, Musa mengangkat tongkatnya sehingga Laut Merah pun
terbelah. Ternyata, saat itu Musa sedang ditodong oleh seorang
bandit dari belakang.

Yang lebih konyol, film Monthy Python’s the Life of Brian dengan
adegan penyaliban yg betul-betul dibuat dgn semangat membanyol
(dengan lagu “the bright side of life”).

Saya merasa bersyukur olok-olok atau banyolan spt itu tidak membuat
saya tersinggung. Dlm konteks tiopik didskusi di atas,  ada satu
renungan, apakah gambar sampul Tempo edisi khusus Soeharto
itu  “enak dipandang dan perlu?”. Atau, “tidak enak dipandang
apalagi perlu”?

Ngomong-ngomong, agama mana yg memberikan ruang bagi humor (yg sehat
tentunya)?

dan masih banyak lagi tentunya komentar-komentar serupa. Mereka menanggapi ada yang setuju dan tidak. Seperti biasa masih kontroversi.


Banjir……..Banjir…….

February 4, 2008

Akhirnya air itu datang juga, mengenangi pemukiman penduduk dan jalanlanan. Air yang melimpah ruah akhirnya mendatangkan bencana juga bagi manusia.

Tapi bukankah semua ulah manusia? Coba bayangkan jalan raya sebesar itu saja dapat terendam air yang tinggi sekali, kenapa hayo???

Tepat sekali gotnya mampet, loh got mampet itu karena apa? Ulah manusia kan yang demen banget buang sampah sembarangan.

So kalau jalan-jalan pada terendam air, jangan salahin airnya dong, salahin saja manusia yang terlalu sombong itu mereka tidak mau mengumpulkan sampah, tetapi sembarangan membuangnya.

Air yang melimpah ruah sejak hari jumat kemarin teryata telah menghambat segala aktifitas manusia, terutama di Jakarta. Bayangkan saja akses menuju bandara saja terputus, apakah itu tidak parah?

Selain itu seorang Presiden terjebak banjir di Jl. Thamrin…wow ini berita bagus sebenarnya. Jl. Thamrin…bisa kebanjiran hihihihi

Yah kalau pemungkiman sekitar Ciliwung kebanjiran sih itu sudah biasa salah sendiri mendirikan rumah di pinggi2-pinggir kali, terus buang sampahnya juga ke kali. Lah ini Jl. Thamrin, jalan protokol, dekat Istana…kebanjiran…lah rasain saja.

Gak kebayang deh kalau sampai ujah besar selama beberapa hari apa gak kelelp di kota hihih, hujan sehari saja sudah melumpuhkan aktifitas bagaimana kalau sudah hujan berhari-hari hhihhi


Mendung Yang Menghalangi Matahari Terbit Pagi Ini

February 1, 2008

Matahri tidak menampakan diri pagi ini. Mendung mengelayut diatas sana. Mataharipun enggan menembus lekatnya mendung yang tebal.

Gemericik airpun masih terus membasahi bumi. Mencoba membasuh sisa-sisa debu. Kesegaran segera terasa. Dingin menusuk tulang.

Segala aktifitas seakan berhenti begitu saja. Caci makipun tak jarang terlontar dari mulut-mulut penuh dosa itu. Keinginan untuk memberhentikan hujan yang turun pasti ada pada setiap saat. Tetapi ketika hujan tidak turunpun, mereka menginginkannya turun.

Manusia memang aneh, dikasih hujan minta panas, tetapi ketika panas mereka minta hujan.

Ujan masih saja turun. Sebentar deras tapi sebentar sedikit. Langin seakan menunmpahkan segalanya untuk bumi. Atau mungkin langin sudah lelah membendungnya, sehingga kini giliran bumi harus menampungnya.

Beberapa tempat dibumi sudah otomatis bakal terendam. Banir segera datang. Munkin bencana itu kembali datang.

Bukankah bencana itu datang atas manusia? Ulah mereka bukan? Siapa yang menanam tentu saja mereka yang akan memanen. Kalaupun bencana itu datang, inilah saat manusia itu memanen tentang apa yang telah mereka perbuat.

Tapi kenapa yang tidak menanam juga ikut memanen? Ya itu resiko ketika hidup bermasyarakat.

Hujan masih saja turun, suasana sunyi, ketakutan itu datang…akankah bencana itu datang???