Awalnya sih memang gak terlalu peduli dengan cover majalah Tenpo edisi 4-10 Februari 2008 ini. Seperti biasa pagi-pagi datang, lihat sekilas aja terus disimpen. Tapi barusan ngebuka email teryata cover majalah itu sedang menjadi perdebatan hangat di beberapa milis.
Langsung aja dilihat dan memang benar pantes buat disikusikan, yah maklum karena menyangkut ajaran agama tertentu. Beberapa ini petikan pendapat dari beberapa anggota milis:
“Bagaimana rekan2 yg lain menyikapi gambar tersebut? Karena
keseluruhan gambar persis sama dengan karya The Last Super Leornardo
Da Vinci hanya wajah2nya saja yg diganti dan peralatan perjamuan juga
digambarkan mirip kedai warteg ada asbak, mangkok makan, piring2,
dll.
Kalo saya pribadi terus terang saya merasa sangat tersinggung dengan
gambar ini. Dengan adanya gambar ini saya beranggapan bahwa Majalah
Tempo telah berlaku tidak bijaksana dengan telah mengijinkan karya
yang saya sebut “Plagiat” ini kedalam majalahnya yang selama ini saya
anggap Tempo sangat edukatif dan intelek.”
atau yang ini
Saya justeru tertawa terbahak-bahak melihat cover tersebut. Ini adalah
cover yang punya cita-rasa tinggi. Kreativitasnya mengingatkan saya
akan cover majalah DR di tahun 1998 yang menggambarkan Suharto dalam
bentuk raja di kartu permainan. (Kepalanya ada di atas dan ada di
bawah).
Saya tak pernah terpikir bahwa dengan memasukkan Suharto di dalam
gambar “Perjamuan Terakhir” maka Tempo merendahkan Yesus. Ini tokh
hanya parodi. (Sama dengan joke yang sering kita dengar di masa Suharto
berada di puncak kekuasaannya: Konon kabarnya Suharto pernah minta
kalau seandainya dihukum, ia ingin disalib. Kenapa? Agar pada hari yang
ke-3 ia bisa bangkit lagi…..).
Karena itu juga kepada kawan-kawan saya orang Kristen yang mungkin akan
ribut (apalagi kalau pakai acara unjuk-rasa segala) saya mau
mengatakan, “Akh, nggak usah bikin malulah. Anda koq tak punya sense of
humour sih….?!”
Saya rasa hal yang dilakukan oleh majalah Tempo ini juga tidak bisa
dikategorikan plagiat. Semua orang tahu bahwa “Perjamuan Terakhir” itu
adalah lukisan Leonardo da Vinci. Dan tidak bisa juga dikategorikan
sebagai pelanggaran hak cipta, karena lukisan ini telah menjadi public
domain atau–sebagaimana halnya benda-benda purbakala menurut konvensi
internasional tentang hak cipta–paling tidak mejadi milik negara
Italia.
Jadi, kalau pemerintah dan rakyat Italia saja tidak ribut (atau mungkin
bahkan ikut tertawa terbahak-bahak); lha, ngapain kita ribut?
Horas,
Mula Harahap
ada lagi loh
Saya kemarin agak kaget juga melihat cover majalah Tempo, kok seperti ini ya? Meskipun saya beragama Islam
tapi saya tidak setuju dengan cover itu, selain ga lucu juga ga pantes lah…..Terkesan seperti kehabisan idea
aja………
ini juga
Saya beragama Kristen. Merasa bersyukur kepada Tuhan karena
dikaruniai semangat humor kepada saya sesuai dgn kebutuhan. Dgn kata
lain, citra rasa lawak secukupnya. Alhasil, saat melihat gambar
sampul majalah Tempo tsb, dlm hati bergumam : ini lelucon. Tapi
lelucon itu belum berhasil membuat saya terkekeh kekeh.
Lantas teringat film History of the World, karya Mel Brooks. Menurut
versi Brooks, adegan the last supper terjadi di sebuah restoran. Si
pelayan, Mel Brook sendiri, sedang memegang talam berwarna perak dlm
posisi sedemikian rupa sehingga cahaya yg dipantulkan talam itu
mengenai kepala yg digambarkan sebagai Yesus.
Sementara itu seorang pelukis, maksudnya Leonardo da Vinci,
mengabadikan adegan itu dalam lukisan di kanvas. Kata Brooks lewat
film itu, begitulah sejarah lahirnya lukisan the last supper yg
tersohor itu – mohon dicatat, lukisan da Vinci itu tidak identik
dengan agama Kristen, itu merupakan ekspresi estetis-religious si
pelukisnya. Lukisan itu sendiri tidak sakral, menurut saya.
Adegan lain, Musa mengangkat tongkatnya sehingga Laut Merah pun
terbelah. Ternyata, saat itu Musa sedang ditodong oleh seorang
bandit dari belakang.
Yang lebih konyol, film Monthy Python’s the Life of Brian dengan
adegan penyaliban yg betul-betul dibuat dgn semangat membanyol
(dengan lagu “the bright side of life”).
Saya merasa bersyukur olok-olok atau banyolan spt itu tidak membuat
saya tersinggung. Dlm konteks tiopik didskusi di atas, ada satu
renungan, apakah gambar sampul Tempo edisi khusus Soeharto
itu “enak dipandang dan perlu?”. Atau, “tidak enak dipandang
apalagi perlu”?
Ngomong-ngomong, agama mana yg memberikan ruang bagi humor (yg sehat
tentunya)?
dan masih banyak lagi tentunya komentar-komentar serupa. Mereka menanggapi ada yang setuju dan tidak. Seperti biasa masih kontroversi.