Soal kematian itu, semua orang membicarakannya, tapi apa inti kematian itu? Aku jedi pengin menayangkan tulisan ini didalam blog ini agar orang lain dapat membacanya pula.
Oleh A Sudiarja
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.28.01361683&channel=2&mn=11&idx=11
Semua manusia mati. Sokrates manusia. Sokrates mati.
Itulah contoh dari guru logika untuk menjelaskan silogisme, yakni
hukum penalaran yang menetapkan bahwa yang partikular selalu mengikuti
yang universal.
Pernyataan “semua manusia mati” merupakan premis pertama, sebagai
kenyataan universal yang diandaikan atau diterima umum. Sifatnya pasti.
Pernyataan kedua, “Sokrates manusia” merupakan premis tengah, sebagai
kenyataan baru, yakni ada seseorang (manusia) bernama Sokrates.
Pernyataan ketiga, “Sokrates mati” merupakan kesimpulan yang ditarik
dari logika bahwa Sokrates sebagai bagian dari manusia juga mengalami
kematian.
Semua dokter yang merawat orang sakit mengenal logika ini. Meski
demikian, mereka berusaha agar kematian bisa dicegah atau ditunda
sejauh mungkin, dengan cara apa pun.
Namun, yang lebih menarik dari logika kematian Sokrates adalah moral
kematian Sokrates. Sokrates mati bukan karena sakit atau karena
dibunuh penguasa, seperti terjadi pada diri orang-orang yang baik,
yang memperjuangkan hak asasi, tetapi karena minum racun. Dia minum
racun bukan karena “bunuh diri”, sebagaimana dikenal dalam banyak
kasus sosial, misalnya karena putus asa, stres, bosan hidup, atau
takut menghadapi masa depan.
Menurut keputusan pengadilan yang terdiri dari para hakim yang iri
pada pengaruhnya, Sokrates didakwa merusak anak-anak muda dan dijatuhi
hukuman mati karena mengajarkan cara berpikir yang kritis.
Dengan tenang ia menenggak racun, sebagai cara eksekusinya, dan sadar
pada kewajibannya untuk taat pada negara. Ia tidak minta grasi untuk
memperpanjang hidupnya. Ia melarang sobat-sobatnya mengumpulkan uang
untuk menyogok hakim guna pembebasannya. Sokrates menerima dan
mencintai nasib (amor fati), dan kelak diwarisi kaum Stoa.
Mitos kematian
Dalam buku Necrocultura (Castelvecchi, 1998). Fabio Giovannini
melukiskan sikap orang zaman ini berhadapan dengan kematian. Dari
kebudayaan yang dikembangkan orang zaman sekarang, misalnya dalam
lirik musik, fotografi, film, lukisan, atau upacara-upacara kematian
dan penguburan, tampak bahwa orang tidak lagi takut pada kematian.
Mereka tidak mau memitoskan kematian sebagaimana agama-agama di masa
lalu, dengan upacara-upacara yang mengelabui, menghias si mati seolah
mau bepergian sebentar, membayangkan janji mengenai kehidupan di
akhirat dan sebagainya.
Sebaliknya, kini budaya kematian mau memasuki realitas apa adanya,
dengan seluruh tragikanya, misalnya dengan memperlihatkan darah, badan
membusuk, daging yang lemah, dan sebagainya.
Analisa Giovannini tampaknya berlaku untuk dunia Barat, dengan budaya
pos-religius atau poskristianismenya. Necrocultura sepertinya
menawarkan penyelesaian pragmatis, di mana kematian bisa dipesan di
rumah sakit melalui eutanasi, atau dalam kasus kriminal melalui
pembunuhan, ditangani secara bisnis dengan kemasan peti mati, kereta
pengantar jenazah, upacara penguburan yang luks dan obituari di media.
Tak ada yang perlu ditakutkan, semua berjalan lancar. Tidak ada setan
atau roh gentayangan sebab dunia orang mati tidak terpisahkan dari
dunia orang hidup. Tidak ada lagi batas misteri antara kematian dan
kehidupan.
Lain lagi gambaran kematian dalam Village of the Watermills. Dalam
salah satu bagian dari delapan episode film Dreams (1990) ini,
sutradara Jepang—Akira Kurosawa—melukiskan mimpinya tentang sebuah
desa Kincir Air yang masyarakatnya dekat dengan alam. Mereka tidak
takut pada kematian, bahkan menyambutnya dengan gembira.
Seorang petualang yang datang ke sana bertanya kepada seorang kakek
tua dan mendapat keterangan, “yang penting bekerja keras, berusaha
hidup panjang. Setelah itu disyukuri.” Lalu petualang itu menyaksikan
penguburan seorang nenek yang meninggal pada usia 99 tahun.
Peristiwa itu dirayakan masyarakat dengan musik dan nyanyian.
Anak-anak menari dengan gembira sambil menaburkan bunga di depan
arak-arakan. Jauh berbeda dari upacara penguburan militer zaman ini,
yang begitu serius dan berat. Namun, ada hubungan mendalam yang perlu
dipikirkan saat kakek tua dari Village of the Watermills itu
mengatakan, “yang penting bekerja keras” dan “hidup panjang” dengan
kata-kata “disyukuri”.
Disyukuri
Orang perlu merenung untuk bisa sampai pada pengertian kata
“disyukuri” (be thanked). Apanya yang disyukuri? Hidupnya atau
matinya? Lebih-lebih karena ia menambahkan kata-kata, “kami tak
mempunyai kuil, atau imam.” Namun, upacara penguburan itu justru indah
dan membahagiakan (a nice happy funeral).
Sama-sama menafikan agama, yang mungkin mereka anggap sebagai lembaga
yang menabukan kematian, Akira Kurosawa dan Giovannini mempunyai
pandangan berbeda. Sementara Giovannini melukiskan Necrocultura
sebagai kenyataan masyarakat sekuler dewasa ini, dengan kebudayaan
pragmatisnya dalam segala segi kehidupan, termasuk kematian, Akira
Kurosawa melukiskan kematian dengan begitu akrab, sebagai bagian
proses alam yang wajar.
Namun, lebih dari itu, kata “disyukuri” dalam film Kurosawa mempunyai
bobot penilaian yang tidak bisa ditawar. Secara moral, tampaknya tidak
semua kematian bisa disyukuri. Ada orang yang diperpendek hidupnya
dengan paksa melalui pembunuhan, sebaliknya ada orang yang mampu
memperpanjang hidupnya karena kemajuan teknologi dan tawaran bisnis
medis yang luar biasa.
Namun, keduanya membuat kematian dijauhkan dari proses alami yang
wajar. Film Kurosawa seperti memberi inspirasi, agar orang mau bekerja
keras bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk mengabdi. Sesudah itu,
kematian menjadi akrab, bisa diterima dengan ceria dan disyukuri.
Dalam novel Yasunari Kawabata, The Old Capital (1962), ada episode
yang menarik, yakni saat Hideo memberi alasan mengapa ia melukis bunga
tulip dalam kimono yang dihadiahkan kepada Chieko, gadis pujaannya.
“Bunga tulip itu hidup,” katanya kepada Takichiro, ayah Chieko.
Bunga tulip hanya hidup sesaat tetapi memberi keindahan penuh. Dan
hidup yang diwarnai cinta seperti tulip, tak perlu berlama-lama.
Sesudah menyatakan diri, dengan rona keindahan dan aroma, bunga itu
mengakhiri hidupnya. Perpanjangan hidup hanya akan menjadi waktu yang
sia-sia.
A Sudiarja Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta; Redaktur Pelaksana Majalah Basis