Permen Ramayana

January 31, 2008

Membayar dengan permen? Emang boleh ya???

Sudah beberapa kali setiap belanja di Ramayana selalu saja dikasih kembalian dengan permen. Mereka beralasan bahwa tidak ada uang receh atau uang recehnya habis.

Tapi memang permen bisa buat alat pembelian barang ya?

Bukannya ramayana itu menjual permen, terus kalau dia memaksa mengembalikan uang kita dengan permen gimana?

Ya kalau permennya enak sih nggak apa-apa, tapi ini permennya gak enak sama sekali, kuecil banget…and harganya mahal…

Setiap kita kembalian Rp 200 atau sekitar segitu selalu aja dikembalikan dengan permen.

Coba aja hitung berapa mereka memperoleh keuntungan dari itu??? Belum lagi setiap pembulatan ke atas. Misalnya kita habis belanja Rp. 27. 950, itu pasti akan dibulatkan keatas. Ya bisa bayangkan saja Rp. 50,- dikali 100 orang yang belanja setiap hari. Kecil memang, tapi bukankan dari nilai-nilai yang lain mereka sudah ngambil untung. Bukankah ini bukti pengelapan uang? Korupsi???

Bukan nilai uangnya mungkin, tetapi kerugian yang ditanggung oleh konsumen.

Sering sih kita marah-marah ketika kita dikasih kembalian permen, tapi terkadang kasirnya itu gak kalah galaknya. Loh bukannya kita yang mesti galak seharusnya. Coba aja bayangkan bukankah itu bibit-bibit korupsi, merugikan orang lain.

Yah karena sudah kesel sekali sampai akhirnya pernah kita bilang “mbak kita boleh ya bayar pakai permen” eh si kasirnya bilang “boleh”, liat aja lain kali kita bayar pakai permen, coba bagaimana reaksi kasirnya.

Dasar Ramayana, benar-benar simbol kapitalis, mereka merasa dibutuhkan jadi mereka bisa melakukan apa saja kepada konsumenya.

Permen saja buat alat kembalian….gak mutu bangettttttttttttt


“Om Ogie”

January 30, 2008

“Om Ogie”

Begitu anak kecil itu memanggilku. “Om Yogie” kata pengasuhnya membenarkan ucapannya.

Sambil tersenyum anak kecil itu memandangku. Dia memoncongkan mulutnya yang sedang penuh dengan makanan.

Ingin rasanya menjewernya, tapi tak kuasa…aku belum mengenalnya.

Anak itu selalu menyapaku ketika aku melintas di depan rumahnya. Ketika aku berangkat kerja ataupun pulang, ketika dia berada di depan rumahnya dia akan selalu memanggilku “Om Ogie” dan pengasuhnya akan selalu membenarkan ucapannya “Om Yogie”

Tapi namaku bukan Yogie atau Ogie. Atau mungkin memang ada kemiripan antara aku dan Om Ogienya itu?

Tapi ada ketulusan di raut wajahnya. Ada kejujuran terpancar disana. Sering orang bilang “Anak kecil itu pasti jujur” Tapi ketika dia menyebut seseorang dengan nama orang lain, bagaimana?

Om Ogie atau Om Yogie atau apalah namanya yang jelas anak kecil itu telah menyita perhatianku. Ketika dia tidak berada di depan rumah maka aku akan merindukannya hehehe


Bendera Setengah Tiang

January 29, 2008

Bendera itu telah berkibar dari kemarin. Hanya dibeberapa tempat memang. Tapi berdera itu berkibar setengah tiang. Apakah negeri ini sedang berkabung atas kematian? Atau negeri ini sedang mengamini atas kematian? Apakah masih ada rasa duka itu?

Tapi bendera itu tetap tidak dapat berbicara…hanya angin membelai lembut tubuhnya…dia tidak tahu apakah negeri ini sedang berduka???


Kehidupan

January 28, 2008

Hidup Terlalu Singkat

Maka Maknailah

Dengan Sebuah Syukur Kepada Yang Memberi

Detik Berganti Menit

Menit Berganti Jam

Jam Berganti Hari

Hari Berganti Minggu

Minggu Berganti Bulan

Bulan Berganti Tahun

Terus Bergulir

Bertambah Umur

Makin Lama Hidup

Makin Dekat Pula Pada Titik Kematian

Perenungan Dapat Kita Lakukan

Doa Dapat Kita Panjatkan

Memohon Ampun

Ataupun Panjang Umur

Tak Jarang Memohon Keinginan

Tuk Memperbaiki Kehipan

Umur Tuhan Yang Menentukan

Hidup Hanya Pinjaman Dari-Nya

Sebuah Kepercayaan Yang Abadi

Kapan Saja Hidup Bisa Diminta-Nya Kembali

Nyawa Dipisahkan Dari Raga

Jasad Kembali Ditanam Dalam Tanah

Kembali Kepada-Nya

Pemberi Hidup

Sendiri Dalam Gelap

Tanpa Apapun Menemani

Hanya Taqwa Kepada-Nya


Merenungi Kematian

January 28, 2008

 Soal kematian itu, semua orang membicarakannya, tapi apa inti kematian itu? Aku jedi pengin menayangkan tulisan ini didalam blog ini agar orang lain dapat membacanya pula.

Oleh A Sudiarja
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.28.01361683&channel=2&mn=11&idx=11
Semua manusia mati. Sokrates manusia. Sokrates mati.

Itulah contoh dari guru logika untuk menjelaskan silogisme, yakni
hukum penalaran yang menetapkan bahwa yang partikular selalu mengikuti
yang universal.

Pernyataan “semua manusia mati” merupakan premis pertama, sebagai
kenyataan universal yang diandaikan atau diterima umum. Sifatnya pasti.

Pernyataan kedua, “Sokrates manusia” merupakan premis tengah, sebagai
kenyataan baru, yakni ada seseorang (manusia) bernama Sokrates.

Pernyataan ketiga, “Sokrates mati” merupakan kesimpulan yang ditarik
dari logika bahwa Sokrates sebagai bagian dari manusia juga mengalami
kematian.

Semua dokter yang merawat orang sakit mengenal logika ini. Meski
demikian, mereka berusaha agar kematian bisa dicegah atau ditunda
sejauh mungkin, dengan cara apa pun.

Namun, yang lebih menarik dari logika kematian Sokrates adalah moral
kematian Sokrates. Sokrates mati bukan karena sakit atau karena
dibunuh penguasa, seperti terjadi pada diri orang-orang yang baik,
yang memperjuangkan hak asasi, tetapi karena minum racun. Dia minum
racun bukan karena “bunuh diri”, sebagaimana dikenal dalam banyak
kasus sosial, misalnya karena putus asa, stres, bosan hidup, atau
takut menghadapi masa depan.

Menurut keputusan pengadilan yang terdiri dari para hakim yang iri
pada pengaruhnya, Sokrates didakwa merusak anak-anak muda dan dijatuhi
hukuman mati karena mengajarkan cara berpikir yang kritis.

Dengan tenang ia menenggak racun, sebagai cara eksekusinya, dan sadar
pada kewajibannya untuk taat pada negara. Ia tidak minta grasi untuk
memperpanjang hidupnya. Ia melarang sobat-sobatnya mengumpulkan uang
untuk menyogok hakim guna pembebasannya. Sokrates menerima dan
mencintai nasib (amor fati), dan kelak diwarisi kaum Stoa.

Mitos kematian

Dalam buku Necrocultura (Castelvecchi, 1998). Fabio Giovannini
melukiskan sikap orang zaman ini berhadapan dengan kematian. Dari
kebudayaan yang dikembangkan orang zaman sekarang, misalnya dalam
lirik musik, fotografi, film, lukisan, atau upacara-upacara kematian
dan penguburan, tampak bahwa orang tidak lagi takut pada kematian.
Mereka tidak mau memitoskan kematian sebagaimana agama-agama di masa
lalu, dengan upacara-upacara yang mengelabui, menghias si mati seolah
mau bepergian sebentar, membayangkan janji mengenai kehidupan di
akhirat dan sebagainya.

Sebaliknya, kini budaya kematian mau memasuki realitas apa adanya,
dengan seluruh tragikanya, misalnya dengan memperlihatkan darah, badan
membusuk, daging yang lemah, dan sebagainya.

Analisa Giovannini tampaknya berlaku untuk dunia Barat, dengan budaya
pos-religius atau poskristianismenya. Necrocultura sepertinya
menawarkan penyelesaian pragmatis, di mana kematian bisa dipesan di
rumah sakit melalui eutanasi, atau dalam kasus kriminal melalui
pembunuhan, ditangani secara bisnis dengan kemasan peti mati, kereta
pengantar jenazah, upacara penguburan yang luks dan obituari di media.
Tak ada yang perlu ditakutkan, semua berjalan lancar. Tidak ada setan
atau roh gentayangan sebab dunia orang mati tidak terpisahkan dari
dunia orang hidup. Tidak ada lagi batas misteri antara kematian dan
kehidupan.

Lain lagi gambaran kematian dalam Village of the Watermills. Dalam
salah satu bagian dari delapan episode film Dreams (1990) ini,
sutradara Jepang—Akira Kurosawa—melukiskan mimpinya tentang sebuah
desa Kincir Air yang masyarakatnya dekat dengan alam. Mereka tidak
takut pada kematian, bahkan menyambutnya dengan gembira.

Seorang petualang yang datang ke sana bertanya kepada seorang kakek
tua dan mendapat keterangan, “yang penting bekerja keras, berusaha
hidup panjang. Setelah itu disyukuri.” Lalu petualang itu menyaksikan
penguburan seorang nenek yang meninggal pada usia 99 tahun.

Peristiwa itu dirayakan masyarakat dengan musik dan nyanyian.
Anak-anak menari dengan gembira sambil menaburkan bunga di depan
arak-arakan. Jauh berbeda dari upacara penguburan militer zaman ini,
yang begitu serius dan berat. Namun, ada hubungan mendalam yang perlu
dipikirkan saat kakek tua dari Village of the Watermills itu
mengatakan, “yang penting bekerja keras” dan “hidup panjang” dengan
kata-kata “disyukuri”.

Disyukuri

Orang perlu merenung untuk bisa sampai pada pengertian kata
“disyukuri” (be thanked). Apanya yang disyukuri? Hidupnya atau
matinya? Lebih-lebih karena ia menambahkan kata-kata, “kami tak
mempunyai kuil, atau imam.” Namun, upacara penguburan itu justru indah
dan membahagiakan (a nice happy funeral).

Sama-sama menafikan agama, yang mungkin mereka anggap sebagai lembaga
yang menabukan kematian, Akira Kurosawa dan Giovannini mempunyai
pandangan berbeda. Sementara Giovannini melukiskan Necrocultura
sebagai kenyataan masyarakat sekuler dewasa ini, dengan kebudayaan
pragmatisnya dalam segala segi kehidupan, termasuk kematian, Akira
Kurosawa melukiskan kematian dengan begitu akrab, sebagai bagian
proses alam yang wajar.

Namun, lebih dari itu, kata “disyukuri” dalam film Kurosawa mempunyai
bobot penilaian yang tidak bisa ditawar. Secara moral, tampaknya tidak
semua kematian bisa disyukuri. Ada orang yang diperpendek hidupnya
dengan paksa melalui pembunuhan, sebaliknya ada orang yang mampu
memperpanjang hidupnya karena kemajuan teknologi dan tawaran bisnis
medis yang luar biasa.

Namun, keduanya membuat kematian dijauhkan dari proses alami yang
wajar. Film Kurosawa seperti memberi inspirasi, agar orang mau bekerja
keras bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk mengabdi. Sesudah itu,
kematian menjadi akrab, bisa diterima dengan ceria dan disyukuri.

Dalam novel Yasunari Kawabata, The Old Capital (1962), ada episode
yang menarik, yakni saat Hideo memberi alasan mengapa ia melukis bunga
tulip dalam kimono yang dihadiahkan kepada Chieko, gadis pujaannya.
“Bunga tulip itu hidup,” katanya kepada Takichiro, ayah Chieko.

Bunga tulip hanya hidup sesaat tetapi memberi keindahan penuh. Dan
hidup yang diwarnai cinta seperti tulip, tak perlu berlama-lama.
Sesudah menyatakan diri, dengan rona keindahan dan aroma, bunga itu
mengakhiri hidupnya. Perpanjangan hidup hanya akan menjadi waktu yang
sia-sia.

A Sudiarja Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta; Redaktur Pelaksana Majalah Basis


Jenuh Berita Soeharto

January 28, 2008

Berita Soeharto mungkin memang berita sensasional dan berita yang ditunggu-tunggu, sehingga hari ini dan kemarin semua media baik cetak maupun elektronink mengulas tentang dirinya.

Memang bukan hanya saat ini saja berita itu selalu dibahas dimedia masa, sejak dia lengser keprabon berita itu memang terus menerus menghiasi media yang ada.

Hari ini mungkin puncak dari semua dimana siaran TV tak henti-hentinya menayangkan tentang dirinya dan profil masa lalunya. Semua dimulai ketika ada kabar beliau menghembuskan nafas terakhirnya, maka media ramai-ramai menayangkan peristiwa itu.

Semuanya sebenarnya sudah dimulai sejak 24 hari yang lalu sejak Soeharto masuk rumah sakit. Sejak itu media terlalu memombadir tentang kondisi yang dialaminya.

Hari ini banyak sekali yang memprotes atas berita-berita itu. Jenuh, tentu saja. Berita yang ditayangkan hanya itu-itu saja dan terlalu di besar-besarkan. Tapi bukankah memang begitu? Hal-hal kecil saja bisa menjadi besar.

Kejenuhan itu mungkin juga dirasakan oleh banyak orang tapi banyak orang juga ingin mengetahui tentang kondisinya. Sebenarnya tidak menggapa sih memberitakan suatu peristiwa tetapi jangan terlalu di bombadir, inilah jadinya masyarakat jenuh dengan berita itu….


“Pak Tua” Itu Akhirnya Berpulang Juga

January 28, 2008

24 hari sudah media masa selalu saja memberitakan soal kondisi “Pak Tua” yang sedang berada di rumah sakit Pertamina. Setelah 24 hari itu pula akhirnya “mungkin” berita yang mereka tunggu-tunggu itu datang juga. Ya…..”Pak Tua” itu telah kembali ke pangkuannya.

Sejenak perhatian masyarakat kembali terpusat pada kabar duka hari minggu tanggal 27 Januari 2008 sekitar jam 13.20-an mengenai “Pak Tua” yang telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Ya “Pak Tua” itu memang mantan penguasa nomor satu di negeri yang dinamakan Indonesia ini. Selama 32 tahun dia-Pak Tua-telah berkuasa, menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Kharismanya “mungkin” sampai hari ini masih dirasakan oleh sebagaian penduduk negeri ini, lantas kepergiannyapun membawa duka yang mendalam bagi negeri yang pernah dipimpinnya ini. Tapi kepergiannya “masih” menyisakan banyak persoalan bagi penerusnya.

Berita-wafatnya mantan penguasa-ini mungkin telah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Yah sejak “Pak Tua” masuk rumah sakit tanggal 4 Januari tak henti-hentinya media memberitakan kondisinya, sedikitpun ada perubahan pasti langsung masyarakat tahu. Ketika kondisi “Pak Tua” kritispun maka media sudah menduga-duga, apakah ini akhir segalanya? Tapi semua melecet.

Ramalan-ramalan-karena negeri ini senang dengan ramalan-mulai bermunculan, katanya “Pak Tua” akan meninggal pada hari Jumat, ketika hari yang ditunggu datang “Pak Tua” tetap saja masih menghirup nafas, walau dengan bantuan alat.

Ketika masyarakat mulai jemu, bosan dengan berita yang itu-itu saja, ketika itu pula “Pak Tua” itu mengehmbuskan nafasnya yang terkahir dan masyarakat di negeri ini kembali terhenyak.

Hari ini-dari kemarin sebenarnya-kembali media membombadir dengan berita tentang kepergian mantan penguasa itu. Dan memang berita itu yang ditunggu-tunggu penghuni negeri ini.

SELAMAT JALAN “PAK TUA” KENANGANMU AKAN BERSAMA KAMI. BAGAIMANAPUN DIRIMU KAU TELAH MENJADI BAGIAN DARI SEJARAH NEGERI INI


Otomatis Romantis: Menikah Itu Sebuah Pilihan

January 25, 2008

“Usiamu sekarang sudah 29 tahun nduk, kamu sudah dikejar deadline untuk menikah, lantas kapan kamu mau menikah, nanti dibilang perawan tua, nanti kiwir-kiwir”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari seorang ayah kepada putrinya yang ketika hari itu merayakan hari ulang tahunnya yang ke 29. Adegan ini dapat kita temukan dalam film terbaru dari Tora Sudiro dan Marsha Timoty, “Otomatis Romatis”

Film komedi ini mencoba menyeritakan sebuah keluarga dengan tiga orang putrinya yang menurut salah satu puteri dari keluarga itu merasa mendapat kutukan karena mereka gadis-gadis yang cantik akan mendapatkan jodoh yang jelek, jauh dari tanpang cakep.

Semua terlihat ketika salah satu dari mereka menikah dengan seorang yang sangat jelek tetapi kaya raya. Selain itu seorang adiknya juga berpacaran dengan seorang cowok yang yang jauh dari cakep. Semua berawal juga karena ayahnya yang tidak cakep menikah dengan ibunya yang lumayan cantik.

Banyak adegan-adegan yang tidak masuk akal di dalam film ini, misalnya ketika Dave (Tukul Arwana) berbicara dia selalu memoncongkan bibirnya yang memang sudah moncong itu. Semua keluar dari inti cerita karena sebagai seorang yang kaya raya tetapi kelakuaannya benar-benar sebagai orang miskin dan tidak terpelajar.

Banyak adegan-adegan yang dimaksudkan untuk membuat komedi dari film itu terasa, tapi menjadi terkesan garing. Semua terkesan serba dipaksakan, mulai dari dialog dan gerak pemainnya.

Film ini juga seakan ingin mengkukuhkan bahwa perempuan itu materialistis, mereka mau menikah dengan siapa saja, walau tanpang sangat jelek asal dia kaya. Sebuah pelecehan terhadap perempuan tentu saja.

Dalam film-film komedi atau lawak selalu saja perempuan direndahkan. Mereka selalu dijadikan pemuas nafsu belaka dan menunjukan bahwa kekuasaan itu ada pada lelaki.

Apakah memang seperti itu perempuan Indonesia? Mereka materialistis? Tentu saja tidak benar, mereka mempunyai pilihan, mereka dapat memutuskan.

Lantas bagaimana dengan pernikahan? Apakah menikah itu sebuah keharusan? Atau sebuah pilihan? Perempuan harus sudah menikah ketika dia memasuki usia 29 tahun kalau tidak maka sebutan perawan tua itu akan melekat pada namanya.  Bukankah menikah atau tidak itu menjadi sebuah pilihan, baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Tapi ketika orang tua sudah memaksakan kehendaknya bahwa ketika berumur 29 tahun maka seorang gadis sudah harus menikah apakah itu bukan sebuah wujud pelanggaran hak asasi manusia?

Menikah adalah pilihan, kapan dia mau menikah atau tidak menikah, tidak ada paksaan dari siapaun.


Tentang Kematian

January 24, 2008

Saat Kematian Menjemputku

Aku Mau Kau Merelakanku

Menghadap Sang Pencipta

Di Sana Alam Nyata

Kematian Bukan Sebuah Perpisahan

Maka Jangan Tumpahkan Air Matamu

Dalam Kesia-siaan

Kematian Adalah Awal Kehidupan yang Abadi

Maka Jangan Kau Takuti itu

Perpisahan Memang Menyakitkan

Tapi Dia Meninggalkan Kenangan

Untuk Menjadi Pengalaman

Dalam Menjalankan Kehidupan

Kematian Tidaklah Menyakitkan

Hanya Dibutuhkan Ketabahan

Dan Juga Kesiapan

Ketika Dihadapkan


Keindahan Di Atas Bukit

January 24, 2008

Barisan anak-anak tangga itu membawa kita kepada sebuah keindahan yang tersembunyi. Keindahan sebuah bangunan tua dimasa lalu. Sebuah kerajaan diatas bukit.

Candi Boko atau Ratu Boko  itulah nama keindahan itu. Sebuah keindahan diatas puncak bukit. Walau tinggal puing-puing tapi keindahan dari masa lalu itu masih terlihat dengan jelas.

Bangunan itu sudah ada sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Konon dahulu kala sebuah kerajaan nan megah berada disana. Penduduknya hidup dengan tentram dan damai.

Kini puing-puing itpun masih tetap berdiri dengan megahnya. Konon bangunan itu terbuat dari kayu-kayu, dan sekarang bangunan itu hanya tersisa batu-batu sisa pondasi. Pintu gerbang masih berdiri dengan kokohnya, mungkin karena dulunya untuk pertahanan sehingga terbuat dari batu-batu yang indah.

Disebelah kanan pintu gerbang ada bangunan yang masih kokoh juga, candi pembakaran namanya. Dahulu kala disanalah mayat-mayat itu dibakar. Aroma mistik begitu terasa disana, mungkin karena dahulu kala digunakan sebagai candi pembakaran maka sering kali orang yang datang juga membakar kemenyan disana.

Di atas candi pembakaran ini kita dapat melihat indahnya matahari terbenam diatas kota Yogyakarta. Dan dari atas bukit sebelah candi prambanan ada tempat dimana kita dapat melihat betapa megahnya Candi Prambanan.

Candi Prambanan dibuat oleh Ratu Boko, sebagai persembahan terhadap perempuan yang dicintai. Dikomplek Candi Prambanan ini ada juga candi Sewu dan Patung Roro Jongrang, perempuan yang konon katanya membuat Ratu Boko tergila-gila sehingga berdirilah Candi itu.

Di atas bukit ini kita dapat menemukan kedamaian. Kesejahteraan kehidupan dimasa lalu nampak jelas dari sisa-sisa peninggalan kerajaan ini. Teryang sudah betapa indahnya kerajaan ini pada masa lalu, masa kejayaannya.

Candi Boko memang sebuah keindahan yang berada diatas bukit dan sebuah keindahan yang tersembunyi dari keramaian.